Tambang Pasir Ilegal Makan Korban Jiwa

Kondisi mayat korban sebelum dievakuasi (cho)
Lumajang, Motim - Tambang pasir kembali memakan korban jiwa. Kali ini tambang pasir yang berada di kawasan hutan perum perhutani di aliran sungai Besuksat Desa Pasrujambe Kecamatan Pasrujambe.

Pekerja tambang manual yang bernasib naas itu bernama Nawawi (45) warga Dusun Tawon Songo RT 08 RW13, Desa/Kecamatan Pasrujambe, tewas tertimpa batu saat mencari pasir pada Rabu (11/9) sekira pukul 16.00 Wib.

"Kalau ada kejadian seperti ini, orang yang semula mengaku sebagai penanggungjawab atas penambangan pasir di Besuksat ini langsung ngacir mas,"ucap sumber Memo Timur yang enggan disebutkan namanya.

Padahal, sebelumnya setiap ada iuran untuk keperluan proses kelancaran penambangan yang mengkoordinir keuangan adalah orang dimaksud. Namun, sejak kejadian ini tidak ada lagi orang yang mengaku sebagai penanggungjawab.

Jika tidak salah, semua tambang pasir dialiran sungai Besuksat belum ada ijin dari kementrian lingkungan hidup dan kehutanan (KLHK).

Meski tak mengantongi ijin dari KLHK, penambangan pasir terus berlangsung aman lancar jaya. Kejadian ini sudah dilaporkan ke Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementrian Energi Sumber Daya Mineral, Dirut Perum Perhutani juga ke Dit Reskrimsus Polda Jatim biar diusut.

"Wong belum ijin dari KLHK penambangan pasir di kawasan hutan kok dibiarin beroperasi. Kalau makan korban seperti ini,siapa yang bertanggungjawab. Inilah dampak dari minimnya pengawasan dari pihak terkait, utamanya perhutani, terkesan ada pembiaran."jelasnya.

Kapolsek Pasrujambe AKP Prio Purwandito, SH melalui Kanit Reskrim Aipda Agus Cahyo, SH ketika dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut.

"Penambang manual yang meninggal itu,"ujarnya.

Awal kejadian bermula pasa sore itu korban sedang mencari pasir dibawah tebing aliran sungai Besutsat. Tiba-tiba tebing longsor dan korban tertimpa batu.

Warga yang melihat kejadian itu terus mendatangi lokasi berusaha menolong korban dengan cara memindah bebatuan ketepi dan berhasil. Namun, korban sudah diketahui meninggal dunia.

"Kami berusaha membawa mayat korban ke Puskesmas atau ke rumah sakit untuk visum. Namun keluarganya menolak,"kata Agus.

Mengantisipasi hal yang tak diinginkan dibelakang hari, sebelum mayat korban diserahkan untuk dibawa pulang ke rumah duka, keluarganya disuruh membuat surat pernyataan bermaterai diketahui Kepala Desa setempat.

"Alhamdulillah, surat pernyataan itu sudah kami terima. Keluarganya mengaku ikhlas dan menganggap kejadian itu sebagai musibah,"tegasnya.

Pegiat lingkungan Ahmad Syarif menambahkan, tiga bulan kemarin tepatnya pada Jum'at (5/7) sekira pukul 14.15 Wib, ada pekerja tambang pasir meninggal dunia setelah tertimpa batu.

Pekerja tambang pasir adalah Anang (23), warga Dusun Rowobaung, Desa Pronojiwo Kecamatan Pronojiwo. Anang meninggal dunia tertimpa saat mencari pasir dilokasi tambang milik Muhamad Sujak warga setempat.

Informasinya, penambangan yang memakan korban jiwa juga tidak mengantongi ijin dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Kenapa perhutani diam atau memang benar dapat jatah setiap bulannya. Ini tugas SPI untuk segera turun ke Lumajang, usut biar terungkap siapa saja yang mendapat jatah uang pasir itu,"tambahnya.(cho)