Tarikan Rp 1,5 Juta di SMPN 1 Lumajang Dikeluhkan Walimurid

Keluhan walimurid dan Kasek SMPN 1 Lumajang. (fit) 
Lumajang, Motim - Pendidikan gratis memang sulit diwujudkan. Pihak sekolah melalui komite kerap melakukan penarikan sumbangan atau bantuan pada walimurid. Tak jarang, nominal yang dinilai besar menjadi keluhan walimurid. Seperti tarikan Rp 1,5 juta per siswa di SMPN 1 Lumajang.

Bahkan keluhan yang diduga dari salahsatu walimurid SMPN 1 Lumajang disampaikan ke Bupati Lumajang Thoriqul Haq melalui pesan whatsapp. Isi keluhannya sempat tersebar dan mendapat banyak sorotan berbagai kalangan.

Disebutkan, tarikan Rp 1,5 juta itu untuk bimbingan bagi siswa kelas IX. Belum lagi masih ada tarikan lainnya. “Dulu katanya kelas 3 tidak dipungut untuk perpisahan soalnya mulai kelas 1 selalu selalu diminta urunan untuk perpisahan. Faktanya tahun ini kelas 3 wajib,” tulisnya.

Keluhan itu pun sudah direspon oleh bupati. “Segera saya klarifikasi,” jawabnya.

Kepala Sekolah SMPN 1 Lumajang Sujanar S.Pd., M.M. saat dikonfirmasi, mengatakan sudah mengetahui keluhan yang disampaikan ke bupati itu. Pihaknya juga sudah melakukan klarifikasi atas keluhan tersebut.

Sujanar menegaskan, jika tarikan bantuan Rp 1,5 juta itu sudah menjadi keputusan setelah dilakukan rapat dengan komite sekolah dan para walimurid. “Komite setuju, orangtua setuju, guru-guru juga setuju. Saat itulah dibuat kesepakatan,” katanya pada media, Kamis (5/9).

Tarikan itu disebut untuk ‘Bimbingan Intensif Layanan Plus’ bagi siswa kelas IX. Artinya bukan hanya untuk bimbingan belajar saja. Namun digunakan untuk berbagai jenis kegiatan sampai siswa lulus.

Kegiatan itu diantaranya mulai dari pre tes UNBK, bimbingan belajar UNBK dan USBN, Tryout UNBK, Simulasi UNBK, out bound, pelaksanaan USBN dan UNBK, pelepasan kelas IX, hingga pendampingan PPDB SMA/SMK.

“Akan dimulai di Bulan September, ada pre tes. Setelah dianalisa nanti ketemu, modal awalnya anak-anak nilainya berapa. Kemudian diadakan bimbingan selama 2 bulan. Nanti dites hasilnya naik gak,” ujarnya.

“Bagi anak-anak yang hasilnya tetap, itu anak-anak akan dikelompokkan menjadi 3. Kelompok atas, tengah, dan bawah. Kelompok bawah ini yang nanti digarap untuk ditingkatkan, agar kelompok ini semakin hari semakin habis,” tambahnya.

Ia juga membantah, jika bimbingan itu akan dilakukan selama 30 menit seperti yang dikeluhkan pada bupati. Bimbingan itu, durasinya dari pukul 05.30 WIB sampai 06.45 WIB. “Jadi 30 menit itu tidak benar,” ujarnya.

Sujanar menegaskan, SMPN 1 Lumajang kebutuhannya memang berbeda dengan sekolah lainnya. Karena banyak kegiatan penunjang belajar mengajar. “Karena sekolah lainnya itu kebutuhan minimal. Tapi kita ada namanya 8 standar plus,” katanya.

Lanjutnya, dana bantuan ini juga bisa diangsur oleh walimurid. Namun targetnya pada Desember 2019, sudah bisa dilunasi. “Orangtua menghendaki Desember sudah terkumpul. Karena mulai Januari fokusnya pada ujain nasional, try out, dan simulasi,” jelasnya.

Kemudian bagi walimurid yang tidak mampu, boleh meminta keringanan. Bisa mendapat potongan hingga bebas bayar. “Bagi yang tidak mampu bisa mengajukan bebas sampai dengan sesuai kemapuannya. Bahkan saya perintahkan anak yatim untuk bebas,” pungkasnya. (cho)