Khusus Bondeli Selatan–Sumberwuluh Boleh Dilalui Truk Pasir

Lumajang, Motim - Permasalahan jalur truk pasir di Lumajang memang tidak mudah diselesaikan. Di satu sisi masyarakat menolak jalan desa dilalui truk karena dinilai mengganggu. Di sisi lain para sopir truk pasir enggan melintas di jalur alternatif, karena kondisi jalan masih belum optimal.
Bupati menemui warga soal jalan tambang
Bupati menemui warga soal jalan tambang
Seperti yang terjadi di jalur Dusun Kebondeli Selatan-Desa Sumberwuluh. Ada keluhan disampaikan kepada bupati. Banyak yang keberatan jika di jalur itu tidak boleh dilalui truk pasir. Sehingga Bupati Thoriqul Haq mengizinkan, khusus di jalur tersebut dilalui truk pasir.

“Jalur Kebondeli Selatan – Desa Sumberwuluh menjadi jalan khusus truk tambang pasir dengan komitmen masyarakat yaitu truknya tidak boleh lebih dari 400 armada setiap harinya, dan berlaku mulai jam 6 sampai jam 8 malam, masyarakat sudah sepakat dengan itu,” katanya.

Sementara untuk di tempat lainnya, tetap tidak boleh, harus melintas di jalur khusus alternatif. “Untuk yang lain tetap melewati jalan tambang pasir yang mulai bisa digunakan walaupun belum sempurna,” katanya.

“Saya juga berharap truk-truk melewati jalur itu, nanti semua ada komitmen kebersamaan, ada iuran dari sopir, pengangkut dan pemilik izin tambang untuk perbaikan jalannya, menambah jembatannya dan itu semua digunakan bersama-sama,” lanjutnya.

Ia menegaskan, Pemkab Lumajang berkeinginan kedepannya permasalahan jalan tambang sudah selesai dan tidak ada lagi armada truk melewati jalan perkampungan. Hal itu untuk memastikan kenyamanan pengguna jalan lain terutama jalan-jalan pemukiman yang padat penduduk.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Lumajang, Nugraha Yudha menjelaskan, Pemkab Lumajang telah menyiapkan mekanisme jalur penambangan pasir dari Jugosari hingga Yosowilangun atau perbatasan Kabupaten Jember.

“Untuk tambang di Jugosari nanti titik nolnya ke timur keluarnya di jembatan limpas Gondoruso, ambil belok kanan ke JLS, kalau ke arah timur arah Jember harapannya armada masuk ke JLS ke Timur, atau ke arah barat di traffic light Jarit belok kanan,” jelasnya.

Selain itu ada pembatasan tonase kendaraan yang melewati Jalan Kelas III seperti jalan desa dan jalan kabupaten. “Tonase maksimal adalah 8 ton, namun masih ada armada tambang pasir yang over dimensi akibat modifikasi yang dilakukan oleh oknum sopir,” pungkasnya. (fit)