Profesi Hacker, Baik atau Buruk?

Trifebi Shina Sabrila.
PADA era sekarang, teknologi informasi merupakan salah satu hal yang sangat penting dan berpengaruh dalam kehidupan di Indonesia. Hampir semua hal dan semua kegiatan berhubungan dengan teknologi informasi yang dapat mempercepat dan memberikan keefektifan dalam segala macam pekerjaan yang ada.

Penyampaian dan penyebarluasan informasi-informasi pun menjadi sangat mudah dengan adanya teknologi informasi. Sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi informasi memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam kehidupan saat ini. Di satu sisi, perkembangan teknologi memang mampu membawa banyak manfaat serta kemudahan bagi kehidupan masyarakat modern. 

Namun di sisi lain, perkembangan teknologi juga membawa kecemasan tersendiri karena perilaku cybercrime yang semakin marak. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, berkembang juga profesi-profesi yang berada di dalam lingkup teknologi informasi itu sendiri. Dalam bidang Teknologi Informasi terbagi dua perspektif mengenai profesi-profesi yang ada di dalamnya. 

Perspektif pertama adalah profesi-profesi dalam bidang Teknologi Informasi yang dipandang sebagai profesi yang baik serta dianggap sangat bermanfaat dan berguna dalam kehidupan masa kini, seperti misalnya Software Developer, System Analyst, Data Scientist, Web Developer, dan masih banyak lagi.

Sedangkan perspektif kedua adalah profesi-profesi dalam bidang Teknologi Informasi yang dipandang kurang baik dan berpotensi mengancam keamanan serta kenyamanan masyarakat serta negara sehingga dianggap sangat meresahkan seperti misalnya hacker dan cracker. Lalu apakah profesi hacker itu dapat dianggap baik dan bermanfaat? Atau hanya dianggap mengancam terlepas dari beda-beda tujuan perorangnya dalam memilih profesi itu? 

Profesi-profesi yang terdapat dalam bidang IT atau bahkan hanya sepenggal kata “IT” saja memang sepertinya sangat erat kaitannya dengan kata hacker. Hingga saat ini profesi hacker masih sering dianggap sebagai profesi yang bisa dibilang kurang memberikan manfaat atau bahkan mengancam dan tidak sedikit yang menganggap hacker sebagai seorang kriminal.

Bagi sebagian banyak orang, profesi hacker lebih condong ke dalam hal-hal negatif seperti misalnya perusak jaringan, pembobolan serta pencurian data nasabah sebuah bank, pembobolan data-data penting dan rahasia negara, penipuan-penipuan, penyediaan website-website berisi konten bajakan atau konten porno, dan masih banyak lagi. Pada kenyataannya, tidak semua hacker memiliki sisi gelap seperti yang sering orang-orang anggap selama ini.

Banyak juga hacker-hacker yang sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa dan mampu menggunakan potensi yang dimilikinya tersebut untuk melakukan banyak pekerjaan yang bermanfaat yang biasanya sering kita sebut dengan nama white hat hacker, fokus mereka lebih ke mempertahakan dan melindungi sebuah sistem atau mencari kelemahan suatu sistem dengan melakukan uji coba terhadap suatu sistem tanpa melupakan etika-etika yang mereka miliki sebagai seorang hacker. 

Menurut Ludi Lumanto, ketua Indonesia Security Incident Response Team, Indonesia menempati urutan pertama jumlah hacker dengan persentase sebesar 38%. Tandanya besar sekali potensi dan kesempatan yang dimiliki Indonesia untuk memiliki hacker yang dapat membantu pemerintah dalam hal pengamanan dan perlindungan data.

Sebenarnya banyak hal yang dapat dilakukan untung memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki para hacker ini agar bisa menjadi hal yang bermanfaat. Sayangnya, pemerintah masih kurang tanggap dan kurang mampu dalam memanfaatkan potensi besar yang dimiliki para hacker di negara ini. Padahal beberapa kali situs-situs penting di negara ini berhasil di bobol oleh para hacker yang menandakan situs negara kita masih kurang aman dan membutuhkan perlindungan.

Perlakuan yang sepantasnya dan tepat dalam menanggapi keahlian dan potensi para hacker tentu bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi banyak pihak. Kita memang seharusnya merangkul para hacker bukannya mencela mereka. Mungkin ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam upaya memanfaatkan kemampuan yang dimilik para hacker ini.

Menurut saya hal yang mungkin dapat dilakukan adalah perusahaan-perusahaan besar berbasis teknologi seperti misalnya Google dan lainnya dapat melakukan kerjasama dengan para hacker. Misalnya mereka dapat membuka peluang bagi para hacker yang dapat menemukan bug yang terdapat pada sistem perusahaan tersebut sehingga perusahaan tersebut dapat mengetahui kelemahan sistemnya sehingga bisa memperbaikinya dan hacker tersebut dapat dihadiahi uang sebagai penghargaan, sehingga hal ini dapat menguntungkan perusahaan-perusahaan tersebut dan kemampuan para hacker pun bisa lebih terarah dengan baik.

Kemudian ada juga upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah seperti pengadaan lomba hacking antar hacker yang diharapkan dapat memunculkan hacker yang tidak sekedar iseng untuk ingin tahu tetapi hacker yang memang benar-benar berkualitas dan mampu diajak untuk bekerjasama serta mengambil tanggung jawab dalam melindungi situs-situs pemerintah Indonesia.

Dari tulisan di atas dapat disimpulkan pada saat ini profesi hacker masih sering dipandang sebelah mata dan dianggap meresahkan serta merugikan masyarakat dan negara karena kreativitas dan potensi yang mereka miliki tidak dikembangkan dengan baik dalam suatu wadah. Jika para hacker ini diarah kan dengan benar dan dibimbing dengan benar, maka mereka dapat dijadikan senjata utama dalam melindungi negara terutama dalam pengamanan sistem dan semacamnya.

Data-data negara sangatlah penting dan rahasia, sehingga kita membutuhkan orang-orang dengan potensi besar seperti para hacker untuk melindungi data-data negara kita dengan memberikan arahan yang tepat. (Trifebi Shina Sabrila - Mahasiswi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang)