Tambang Pasir Makan Korban Lagi

Lumajang, Motim - Sopir truck asal Dusun Sukosari, Desa Sukorejo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, tewas tertimpa batu di lokasi tambang pasir di aliran sungai Dusun Curahkoboan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Rabu (2/10), sekira pukul 14.00 WIB.
Petugas saat olah TKP
Petugas saat olah TKP
Kapolsek Pronojiwo, Iptu Basuki Rachmad, SH melalui Kanit Reskrim, Bripka Purnomo kepada Memo Timur menuturkan sopir naas itu bernama Dedi Purwanto.

Menurut keterangan sejumlah saksi, siang itu korban membantu penambang mencari pasir di sebelah tebing berharap trucknya cepat terisi.

Saat korban sibuk mencari pasir, tiba-tiba batu berukuran besar yang berada diatas tebing itu jatuh menimpa korban mengenai kepalanya.

Sejumlah pekerja pasir yang berada di dekatnya berusaha membantu mengangkat batu yang menindih tubuh korban dan berhasil. Namun nyawa korban tak tolong. Oleh warga kejadian itu terus dilaporkan ke Polsek Pronojiwo.

Pihaknya pun terus mendatangi lokasi langsung melakukan proses olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) juga menghimpun keterangan warga. Saat pihaknya hendak membawa mayat korban ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Haryoto untuk dilakukan outopsi keluarganya menolak. Terpaksa mayat korban dilakukan pemeriksaan di Puskesmas Pronojiwo.

“Keluarganya juga membuat surat pernyataan menolak Outopsi dan menerima kematian korban secara bermaterai diketahui oleh Sekdesnya,” katanya.

Secara terpisah Sekjen Lembaga Tranparansi Publik Hidayat, SH menambahkan, kecelakaan tambang belakangan ini sering terjadi, bukan disebabkan karena faktor alam. Melainkan, karena minimnya pengawasan dari pihak terkait.

Hidayat meminta agar Kementerian Energi Sumberdaya Mineral turun lapangan dan melakukan croscek apakah perusahaan tambang sudah mempekerjakan para pekerjanya sesuai dengan standart Operasional Prosedure (SOP), apa belum.

Jika diketahui bekerja tidak sesuai SOP, maka kementerian ESDM harus mengambil tindakan tegas juga sanksi sesuai dengan ketentuan yang ada.

“Kalau tidak ada tindakan dan sanksi, maka penerapan SOP tidak bisa berjalan,” jelasnya.

Lanjut Hidayat, atas banyaknya kejadian kecelakaan tambang ini perlu dimaksimalkan tugas dan fungsi pengawasan dari Inspektur tambang ESDM, terkait SOP juga pemasangan tanda batas titik koordinat, karena tidak sedikit pelaku tambang melanggar titik koordinat.

“Jika pengawasan dari ESDM ditingkatkan, kami yakin penambang akan bekerja secara SOP juga tidak melanggar titik koordinat,” tuturnya. (cho)