Beda Citra Perempuan dalam Cerita Rakyat


Fitria Sugiatmi
Perempuan acap kali digambarkan sebagai kaum yang lemah. Pada abad ke-19 bahkan peran perempuan hanya dipandang sebelah mata. Perempuan tidak dibolehkan mengenyam pendidikan tinggi. Sampai pada masanya sosok-sosok pahlawan seperti Kartini muncul untuk memperjuangkan hak-hak wanita. Konsep pemikiran mengenai wanita tempo dulu dengan sekarang tentu berbeda.

Kilas balik mengenai sosok-sosok wanita zaman dahulu dapat terungkap lewat cerita rakyat. Salah satu yang menjadi media dalam penggambaran wanita adalah cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan bagian folklor. Cerita foklor lebih dikenal sebagai cerita yang diwariskan turun temurun melalui lisan kepada satu generasi ke generasi selanjutnya.

Kebanyakan cerita rakyat menggambarkan maskulinitas laki-laki baik dalam sistem sosial di masyarakat maupun keluarga. Dominasi laki-laki pada kebanyakan cerita rakyat sangat kental. Pengaruh patriarki terhadap pembentukan penggambaran perempuan pada cerita rakyat sangat besar. 

Menurut KBBI citra adalah kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa dan puisi. Secara sederhana, citraan dapat dikatakan sebagai gambaran sesuatu. Kesan atau gambaran visual tersebut ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosan serta puisi.

Salah satu cerita rakyat yang menonjolkan sisi perempuan dan jarang dibahas adalah Cerita Rakyat Ki Ageng Mangir Wanabaya dari Jawa dan Cerita Rakyat Si Boru Sangkar Sodalahi dari Batak. Kedua cerita rakyat tersebut memang mengandung kekerasan dan tipu muslihat yang tidak terlalu cocok untuk anak-anak. Akan tetapi, banyak nilai moral yang juga dapat diambil. Salah satunya mengenai nilai moral mengenai kesetiaan dan keberanian.

Lebih dari itu, citra wanita yang digambarkan berbeda dari kebanyakan cerita rakyat di Indonesia sangat menarik dikaji. Sisi “gelap”wanita yang jarang dikisahkan sebelum lahirnya feminisme ternyata juga terdapat di cerita rakyat Indonesia. Kedua kisah rakyat tersebut mengisahkan wanita yang terpaksa menikahi seorang lelaki dan menjadi sebab musabab kematian suaminya.

Tokoh perempuan dalam Cerita Rakyat Ki Ageng Mangir Wanabaya bernama Putri Sekar Pembayun. Putri Sekar Pambayun merupakan Putri dari Panemabahan Senopati Mataram yang sekaligus musuh Ki Ageng Mangir Wanabaya. Panembahan Senopati kemudian menyusun tipu muslihat dengan menyuruh anaknya menyamar sebagai penari ledhek dan mendekati Ki Ageng Mangir.

Ki Ageng Mangir terpesona kecantikan Putri Sekar Pembayun  dan menikahinya. Putri Sekar Pembayun lalu membawa suaminya kepada ayahnya. Ki Ageng Mangir sungkem pada Panembahan Senopati. Saat itulah Panembahan Senopati memunuhnya. Meskipun mencintai Ki Ageng Magir, tetap saja Putri Sekar Pembayun membawa suaminya menjemput ajal.

Masyarakat menggambarkan citra perempuan sangat mudah dijadikan alat. Wanita cantik hanya digunakan untuk memikat seseorang demi kekuasaan. Ekploitasi patriarki yang tidak bisa ditentang pada zaman dulu jelas terlihat. Putri Pambayun hanya dijadikan alat pembunuh suaminya oleh ayahnya.

Tokoh perempuan dalam cerita rakyat Si Boru Sangkar Sodalahi bernama Si Boru Sangkar Sodalahi. Ia adalah seorang wanita yang menikahi  pembunuh suaminya. Si Boru Sangkar Sodalahi diusir oleh klannya karena dianggap bukan istri setia. Kenyataannya, pada suatu malam Si Boru Sangkar Sodalahi membunuh suami keduanya demi membalas dendam kematian suami pertama.

Setelah itu, Si Boru Sangkar Sodalahi datang ke marga suami pertama sambil membawa tengkoraknya. Ia membuktikan bahwa dirinya istri setia pada kepala marga. Si Boru Sangkar Sodalahi digambarkan sebagai wanita yang pemberani. Citra diri Si Boru Sangkar Sodalahi. Citra perempuan paada cerita rakayt digambarkan setia.

Kesetiaannya bukan hanya pada suami tapi kelompok masyarakat yang menaunginya. Bahkan wanita yang telah menjadi janda dihakimi tidak setia. Selain rasa dendam atas kematian suami tokoh utama, tidak dipungkiri bahwa memang tekanan dari masyarakat yang mengolok-oloknya juga besar. Si Boru Sangkar Sodalahi sampai membawa tengkorak suaminya hanya untuk membuktikan kesetiannya pada kepala adat.

Cerita Rakyat Ki Ageng Mangir Wanabaya dari Jawa dan Cerita Rakyat Si Boru Sangkar Sodalahi dari Batak memiliki kemiripan cerita. Kedua cerita tersebut menggambarkan tokoh seorang istri yang memiliki motif menikahi suaminya lantaran ingin balas dendam dan membunuhnya. Meskipun memiliki alur yang mirip, penggambaran kedua citra perempuan yang ditampilakan berbeda.

Citra fisik perempuan pada Cerita Rakyat Ki Ageng Mangir Wanabaya dari Jawa digambarkan sebagai sosok wanita cantik, ibu sekaligus istri yang baik hati dan berhati lembut tetapi disisi lain juga tak berdaya menghadapi kekuasaan ayahnya.

Berbeda dengan citra perempuan dalam Cerita Rakyat Ki Ageng Mangir Wanabaya,  Citra perempuan pada cerita rakyat Si Boru Sangkar Sodalahi lebih digambarkan independent, berani dan setia. Kecantikannya yang murni digunakan untuk membunuh suaminya.

Penggambaran citra perempuan pada kedua cerita rakyat tersebut menggambarkan tipe wanita yang berbeda. Wanita dari Jawa lebih digambarkan lemah lembut dan sangat patuh. Berbeda dengan wanita asal Batak yang lebih digambarkan mandiri dan teguh. Wanita zaman dahulu memang selalu digambarkan “inferior”.

Akan tetapi, tentu saja ada peran penting dibaliknya. Sosok “ibu pada tempo dulu sangat fokus pada perannya di rumah. Meskipun hal demikian kerap kali disalahartikan sebagai bentuk pengekangan wanita. Lebih dari itu, konsep diri wanita saat ini lebih seperti perpaduan citra antara Si Boru Sangkar Sodalahi dan Putri  Pambayun yang menggambarkan sosok perempuan lemah lembut, kuat, dan mandiri.

Oleh: Fitria Sugiatmi - Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang)