Dinas Ketahanan Pangan Terus Kenalkan Sego Kelor Lumajang

Sego Kelor Lumajang. (*)
Lumajang, Motim - Bupati Thoriqul Haq telah menetapkan Sego Kelor menjadi makanan khas Lumajang. Dinas Ketahanan Pangan Lumajang pun terus melakukan upaya promosi. Agar Sego Kelor Lumajang lebih dikenal luas. Bukan hanya di Lumajang saja, namun juga dikenal masyarakat luar daerah.

Saat ini memang jumlah penjual Sego Kelor masih terbatas. Hanya ada beberapa warung makan dan katering yang menyediakan. Itu pun rata-rata harus memesan terlebih dulu. Maka Dinas Ketahanan pangan berusaha agar lebih banyak lagi yang menjual Sego Kelor.

“Kita berupaya agar masyarakat lebih mudah menemukan Sego Kelor di warung-warung,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Lumajang Ir. Sutan Wardono pada Memo Timur, Kamis (28/11).

Upaya yang sudah dilakukan sejauh ini, beberapa kali telah digelar bimbingan teknis maupun pembinaan kepada pelaku usaha kuliner di Lumajang. Khususnya bagi warung-warung, agar bisa memasak Sego Kelor.

Tak hanya itu, hotel dan restoran di Lumajang juga sudah dihimbau agar menyediakan menu Sego Kelor. “Termasuk di tempat-tempat wisata, kita terus lakukan sosialisasi,” ucap Sutan saat ditemui di kantornya.

Bahkan Bupati Lumajang telah mengeluarkan surat edaran, agar semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan instansi vertikal lainnya menyajikan Sego Kelor di tiap rapat atau event yang digelar.

Untuk harga Sego Kelor sendiri saat ini bervariasi. Tergantung lauk dan penyajian dari penjualnya. Paling murah, ada Sego Kelor yang disajikan seperti nasi bungkus, biasanya dijual di kisaran Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu.

Kemudian, ada Sego Kelor yang disajikan dalam bentuk nasi kotak, harganya bisa Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. “Ini biasanya untuk konsumsi saat ada seminar dan juga rapat-rapat,” ucap Sutan.

Kemudian yang termahal dan memang khusus disediakan untuk pangsa pasar kelas atas, harganya bisa Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu. Tentu variasi lauknya yang membedakan, sehingga membuat harganya mahal. Seperti yang dijual di hotel.

“Jadi kita sudah bekerjasama dengan hotel-hotel agar menyediakan Sego Kelor,” ucapnya.

Sutan menambahkan, yang membuat Sego Kelor Lumajang berbeda dengan di daerah lainnya adalah dari segi memasak dan penyajiannya. “Kalau di daerah lainnya, seperti di Bali dan Makassar, kelor ini hanya sebagai sayur,” ucapnya.

Namun khusus Sego Kelor Lumajang, dari tanaman kelor yang sudah dihaluskan, langsung diproses dengan beras saat dimasak atau dikukus. “Sehingga menjadi nasi yang menyatu dengan kelor. Warnanya hijau alami dan rasanya kelor,” ucapnya.

Sutan menceritakan, kenapa bupati tiba-tiba memutuskan agar Sego Kelor ini menjadi makanan khas Lumajang. Dulu Sego Kelor sebenarnya sudah ada dan dibuat oleh masyarakat Lumajang. Namun kurang begitu dikenal.

“Mungkin karena kurang promosi, sehingga masyarakat Lumajang yang punya makanan ini, tidak dikenal oleh masyarakat Lumajang sendiri,” ujarnya.

Kemudian bupati dan wakil bupati yang mengetahui adanya makanan ini beruapaya menjadikannya makanan khas. “Sebelum beliau menjabat sudah berkeinginan Sego Kelor ini diangkat menjadi makanan khas Lumajang,” ungkap Sutan.

Sedangkan untuk bahan, diketahui di Lumajang sangat mudah ditemukan tanaman kelor. Dan di pasar juga dijual sangat murah. “Di rumah-rumah warga banyak ditemukan. Bahan baku melimpah. Kita siap untuk pengembangan Sego Kelor,” kata dia.

Kemudian dilihat dari segi manfaat, kelor diketahui sangat baik untuk kesehatan. “Diantaranya memberikan nutrisi bagi tubuh, kaya akan antikosidan, membantu menurunkan kadar gula, hingga menurunkan kolesterol,” pungkasnya. (fit)