Berbulan-bulan Urus E-KTP Tak Kunjung Jadi

Lumajang, Motim - Tak sedikit masyarakat Lumajang yang mengeluh, karena sudah mengurus Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) namun tak kunjung jadi. Pasalnya sudah mengurus sejak berbulan-bulan yang lalu hingga kini belum selesai.
Antrean di Dispendukcapil Lumajang
Antrean di Dispendukcapil Lumajang
Salah satu warga mengaku, dirinya sudah mengurus E-KTP pada April 2019 di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Lumajang. Tetapi hingga memasuki Desember 2019, masih belum tercetak.

“Sebelum bulan puasa Saya mengurus, sampai sekarang mau ganti tahun belum jadi,” kata warga yang namanya tidak mau disebut.

Dirinya sebenarnya sudah mendapatkan Surat Keterangan (Suket) untuk sementara. Namun menurutnya itu fungsinya tak begitu maksimal seperti E-KTP. Contohnya, saat dirinya mau membeli motor di dealer di luar kota, tetap dimintai E-KTP.

“Kebetulan Saya kerja di luar kota. Mau beli motor di sana, tetap dimintai E-KTP tidak mau Surat Keterangan itu,” akunya.

Saat ini, Suket yang didapatnya dari Dispendukcapil itu sudah kadaluarsa. Memang Suket itu hanya berlaku selama 6 bulan, selanjutnya harus diperpanjang lagi. Namun Ia enggan meminta lagi surat tersebut.

Kemudian, ada warga lagi mengaku, yang sudah mengurus E-KTP buat anaknya yang baru berusia 17 tahun. “Sudah sejak 3 bulan lalu saya ngurus, tapi kok masih belum selesai,” ungkapnya.

Sementara Pelaksana Tugas Kepala Dispendukcapil Lumajang, Agus Warsito Utomo saat dikonfirmasi Memo Timur menegaskan, banyaknya E-KTP yang belum tercetak karena blangko yang tersedia sangat terbatas.

“Material blangko E-KTP sebenarnya ada cuman saat ini terbatas,” katanya saat dihubungi, Selasa (3/12).

Menurutnya, hal ini juga terjadi di daerah lainnya, bukan hanya di Lumajang saja. Jatah blangko E-KTP yang diberikan pada masing-masing daerah sangat sedikit. “Kabupaten atau kota di seluruh Indonesia hanya diberi 500 keping per bulan,” ucapnya.

Lanjutnya, jumlah tersebut tentu tidak seimbang dengan jumlah warga yang mengurus E-KTP di Dispendukcapil. Sehingga proses mencetaknya antre sesuai waktu pengajuan. Saat ini saja, pihaknya baru mencetak E-KTP yang masuk pengajuan pada 18 Juni 2019.

Agus Warsito menjelaskan, E-KTP yang harus dicetak sebenarnya mencapai 1.800 per minggu. “Sementara blangko hanya diberi 500 per bulan. Sehingga ada sekitar 1.300 yang menunggu antrian setiap minggunya,” jelasnya.

Ia menambahkan, sesuai hasil Rakornas di Jakarta, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian berjanji akan menuntaskan kekurangan blangko pada tahun depan. “Tahun 2020 akan menuntaskan kekurangan blangko,” pungkasnya. (fit)