Cerita Suka Duka Istri Danyon 527 Selama Ditinggal Tugas ke Kongo

Lumajang, Motim - Sebagai istri dari Komandan Batalyon 527 Lumajang, Letkol INF Totok Prio Kismanto, SE Nurul Rohma harus menghadapi resiko ketika ditinggal bertugas ke luar negeri. Ia harus tetap besar hati, sang suami berangkat ke Kongo untuk bergabung dengan pasukan perdamaian.
Nurul Rohma, istri dari Komandan Batalyon 527 Lumajang Letkol INF Totok Prio Kismanto, SE
Nurul Rohma, istri dari Komandan Batalyon 527 Lumajang Letkol INF Totok Prio Kismanto, SE



Tepatnya 2 tahun yang lalu, 11 Desember 2017, sang suami sebagai komandan Batalyon Infantri 527/Baladibya Yudha bersama 308 anggota terbaiknya melaksanakan tugas negara. Sebelum ke Kongo, mereka lebih dulu ke Bogor untuk berlatih meningkatkan kesiapan dalam bertugas nanti.

“Pada 11 Desember 2019 baru tiba kembali ke Lumajang. Jadi pas 2 tahun,” katanya.

Ia menceritakan, memang sebagai istri seorang tentara, harus merelakan suaminya beragkat ketika ada tugas jauh. “Yang pasti untuk ibu-ibu persid, mau tidak mau, suka tidak suka harus siap,” ucapnya.

Selama ditinggal, otomatis, apa yang selama ini pekerjaan di rumah yang biasanya menjadi tanggungjawab suami, juga harus Ia lakukan. “Kerjanya bapak-bapak harus dikover. Misalnya pagi ngantar sekolah, beli galon, beli gas, apa yang rusak di rumah, ini ibu-ibu yang harus ngurusi,” kata Nurul.

Selama menunggu kedatangan suami, Ia bersama dengan ibu-ibu lainnya banyak menghabiskan waktu untuk berbagai kegiatan. Utamanya berdoa bersama, agar tugas negara yang dilaksanakan suami di sana berjalan dengan lancar.

“Ibu-ibu ada tambahan kegiatan, ada pengajian. Saya gilir tiap hari per kompi. Mulai Senin itu dari markas A, B, C, dan seterusnya sampai hari Sabtu. Setiap hari ada doa bersama,” ujarnya.

Tak hanya itu, ada juga kegiatan lain seperti olahraga bersama. “Ada juga kegiatan cabang. Selasa ada kegiatan voli. Hari Rabu ada tenis. Hari Kamis pengajian cabang, Jumat olahraga aerobik bersama. Jadi kegiatan Sabtu sampai Minggu itu ibu-ibu full,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kenapa dirinya sudah siap ditinggal suami selama 2 tahun itu, karena sebelum menikah sudah ada pembekalan. Dijelaskan sebelumnya, utamanya dari para senior tentang suka duka berumah tangga dengan seorang tentara khususnya pasukan di Batalyon.

“Sudah dibekalin nanti kamu harus apa, apa yang kamu kerjakan, resiko apa yang kamu hadapi nanti. Itu semua sudah dikasih senior-senior. Apalagi pasukan di batalyon, suwaktu-waktu tugas negara, ketika akan diberangkatkan, 5 detik sudah harus siap,” pungkasnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh istri dari Kapten Haryanto, Sulasti Ningsih juga bercerita sama. Bahkan Ia sudah 2 kali ini ditinggal tugas jauh. Pertama ditinggal ke Kalimantan selama 10 bulan. Lalu ke Kongo selama 2 tahun.

“Cuma ada kebanggaan tersendiri, orangtua Saya dulu juga tentara. Dulu waktu ada seleksi, tugas ke luar negeri orangtua Saya gak lolos. Tapi sekarang menantunya bisa. Jadi ada kebanggan tersendiri,” katanya.

Menurutnya, memang ada suka duka selama ditinggal suami. “Dukanya itu banyak, tapi lebih banyak sukanya. Sukanya itu karena kerjaan itu kita yang handel. Sebagai istri, kita juga ngerjakan tugas suami. Dari melek mata sampai tutup mata kita kerjakan sendiri semuanya,” ujarnya.

Selama ditinggal bertugas, Ia bersyukur masih bisa sering melakukan komunikasi. “Alhamdulillah walaupun jauh, untung sinyal masih ada karena di sana masih di dekat kota. Tapi kadang gak bisa. Jadi kita harus sabar. Kita mau telpon sewaktu-waktu juga gak bisa. Karena waktunya selisih 5 jam,” pungkasnya. (cho/fit)