Cerpen Memberi Edukasi

Rudi

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang

Dewasa ini, cerpen sudah bukan hal yang tabu di era Industri 4.0, banyak kalangan yang sudah menikmati bentuk karya sastra ini baik melalui media cetak maupun media digital. Cerpen sebagai prosa modern yang mempresentasikan nilai-nilai kehidupan sosial berdasarkan imajinasi pengarang dan bersifat fiksi. Melalui pesan moral yang terkandung dalam sebuah cerpen dapat ditelaah nilai-nilai positifnya.

Eksistensi cerpen di generasi milenium tidak hanya terpacu terhadap bentuk sastra tulis yang dipandang sebagai media penghibur belaka. Tetapi, bagaimana cerpen memberikan kontribusi terhadap pembelajaran moral, perkembangan intelektual, dan kesenian. Kita sebagai generasi melek teknologi, menjadi tantangan bagaimana bisa memadukan karya sastra (dalam bentuk cerpen) dengan teknologi, sehingga luarannya yaitu cerpen sebagai sarana berfikir yang maksimalis, sarana pembelajaran dalam aspek sosial. Pembelajaran dengan menggunakan cerpen sangat menarik karena gaya bahasa dan visual yang digunakan mudah dipahami oleh khalayak umum.

Cerpen memberi nilai edukasi, edukasi dalam arti yang luas yaitu gambaran dari proses pembelajaran yang berkesinambungan dalam segala aspek kehidupan manusia. Cerpen sebagai karya sastra tidak hanya bersifat pasif tetapi fungsionalnya sangat luas. Pengaruh kebudayaan yang beraneka ragam, letak geografis, dan etnik menjadi warna di dalam cerpen. Cerpen memiliki sejuta makna dalam setiap narasinya. Melalui cerpen bisa kita memanfaatkan sebagai media pembelajaran.

Cerpen sebagai Media Pembelajaran Terhadap Guru dan Murid
Primadona promblematika pendidikan di Indonesia adalah keterbatasan sarana dan prasarana, terutama pendidikan di daerah pedalaman. Wujud dari keterbatasan sarana dan prasarana adalah berdampak buruk terhadap media pembelajaran. Padahal, media pembelajaran sangat penting dalam menunjang keberhasilan belajar siswa. Disinilah, tantangan terhadap guru agar mampu menciptakan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif tanpa alibi keterbatasan dana. Guru dapat memanfaatkan cerpen sebagai media pembelajaran.

Cerpen sebagai media pembelajaran sangat praktis dan tidak membutuhkan biaya yang besar, tetapi tidak terkesan monoton karena melibatkan interaksi terhadap guru dan siswa. Kegiatan belajar seperti ini sangat efektif dalam menciptakan belajar yang kondusif. Siswa akan menangkap nilai-nilai moralitas melalui karakter-karakter tokoh dalam cerpen, siswa juga akan aktif dan bersikap lebih percaya diri.

Cerpen merupakan sebuah instrumen yang menarik untuk diterapkan dalam kegiatan belajar-mengajar, terlebih dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran seperti, kegiatan apresiasi cerpen, menulis cerpen dengan pengamatan lingkungan sekitar, mengangkat tema kearifan lokal sekaligus memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Indonesia dikalangan siswa. Dengan adanya kegiatan-kegiatan ini, harapannya siswa kaya terhadap wawasan dan melatih siswa untuk menulis.

Cerpen sebagai Literasi Berpikir Kritis
Melalui pesan moral yang terkandung di dalam isi cerpen. Pembaca dapat belajar berpikir kritis terhadap persoalan-persoalan yang terjadi karena cerpen merupakan representasi dari kehidupan manusia yang difiksikan. Cerpen sebagai pembelajaran melalui isi dan makna yang telah dikemas oleh pengarang. Konflik-konflik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh di dalam cerpen, dapat diresapi oleh pembaca sehingga menambah wawasan. Dengan demikian, dari hasil yang diperoleh pembaca diharapkan mampu mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.

Dalam lingkup keluarga peranan cerpen tidak kalah penting, karena melalui cerpen dapat menanamkan nilai-nilai moral, dan membentuk kepribadian anak yang baik. Meminjam teori Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan keluarga sebagai sentral pendidikan yang sesungguhnya, keluarga menjadi motivator dan pendorong keberhasilan seorang anak. Orang tua dapat memberikan rutinitas membaca cerpen terhadap anak-anaknya sejak usia dini, selain anak-anak dapat belajar kisah-kisah yang inspirasi, anak-anak juga akan terbiasa untuk membaca yang akan di bawah ke masa depannya. Bacaan cerpen dinilai sangat cocok untuk pembentukan karakter anak karena teks cerpen besifat menghibur, inspiratif dan ringan. Eksistensi cerpen dalam ruang lingkup keluarga menjadikan anak-anak unggul intelektual dan anggun secara moral.

Peranan cerpen dalam lingkungan masyarakat adalah sebagai pembelajaran untuk berpikir kritis. Permasalahan-permasalahan yang timbul dikalangan masyarakat seperti maraknya hoaks, kasus asusila, pencemaran nama baik, menggambarkan bahwa minimnya berpikir kritis terhadap suatu informasi yang kita tangkap. Kurangnya berpikir kritis tentu menjadi bumerang terhadap kerukunan sesama (dalam arti sesama tetangga, golongan masyarakat, antar agama) sehingga dapat terpecah belahkan. Berpikir kritis adalah sebuah keharusan yang wajib kita miliki. Sebenarnya, berpikir kritis dapat kita latih. Lalu melalui apa agar kita mampu berpikir kritis? Yaitu menelaah makna dan simbol-simbol di dalam narasi cerpen. Cerpen dapat dijadikan sebagai media berpikir kritis sehingga masyarakat tidak lagi dilema terhadap informasi yang didapatkan.

Cerpen sebagai literasi berpikir kritis bisa diimplementasikan pada bidang kebudayaan. Antusias remaja terhadap budaya asing, suatu indikator kurang minat remaja terhadap budaya lokal. Hal demikian, menjadi ancaman terhadap keberadaan budaya lokal. Oleh karena itu, cerpen sebagai upaya melestarikan kebuyaan dengan cara mengangkat tema-tema kebudayaan sehingga akan menarik minat belajar remaja dan masyarakat untuk mencintai kebudayaan Indonesia. Dengan diangkatnya kebudayaan ke dalam cerpen, remaja dan masyarakat tentu akan lebih mengenali keindahan budaya Indonesia. Sehingga kebudayaan Indonesia tetap terjaga dan wajah Indonesia akan lebih di kenal luas sampai ke manca negara.

Karena itu, Cerpen sebagai media yang beredukasi positif di kehidupan manusia, harus kita manfaatkan dan kembangkan dengan bijak. Peran cerpen tidak hanya terpaku sebagai karya sastra belaka, tetapi memiliki nilai edukasi yang mencangkup bidang kebudayaan, intelektual maupun spiritual. Pemerintah, masyarakat, dan keluarga dapat memanfaatkan cerpen sebagai suatu strategi pembelajaran dalam menanamkan ajaran-ajaran leluhur bangsa Indonesia terhadap generasi baru.