Orasi Menyetubuhi Sastra

Inka Krisma Melati

Universitas Muhammadiyah Malang, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
 
RUU KUHP? Kenapa menimbulkan banyak permasalahan?. Bagaimana jika benar-benar di sah kan? Sepertinya banyak kesenjangan yang akan terjadi, ketidakadilan antara hak yang harusnya diberikan pada rakyat. Tentunya kita sudah tidak asing dengan RUU KHUP yang mengguncangkan hati masyarakat Indonesia. Rancangan undang-undang ini dinilai tidak masuk akal. Berkaca pada kejadian 23 September 2019, hari dimana semua mahasiswa di Indonesia turun ke jalan untuk menyampaikan orasi di depan gedung DPR. Mereka yang turun langsung ke jalan sangatlah peduli pada nasib rakyat biasa di Indonesia, mereka memperjuangkan hak rakyat, membela kebenaran dan bahkan sampai titik darah penghabisan mereka tetap ada untuk rakyat. Namun sangat disayangkan aksi mahasiswa turun kejalan tidak sepenuhnya berjalan dengan damai, banyaknya bentrok antara mahasiswa dan aparat Negara hingga isu-isu hoax yang mengadu domba bangsa sendiri.

Kini Indonesia sedang diuji, jiwa masyarakat Indonesia terguncang, banyak sekali video yang belum diketahui kebenarannya beredar di media sosial dengan cepat dan bebas. Pintar-pintarlah kalian pada zaman super canggih ini, jangan sampai memecah bangsa sendiri. Dua pahlawan kita telah gugur, yaitu randy dan yusuf yang merupakan mahasiswa Universitas Halu Oleo. Mereka gugur demi bangsa Indonesia, memperjuangkan keadilan untuk rakyat. Hal ini harusnya menjadi tamparan keras bagi pihak pemerintah dan masyarakat Indonesia. Bukan hanya dari pihak mahasiswa yang menjadi korban, dari pihak aparat Negara dan wartawanpun juga ada korban. Kita semua menjadi korban, bangsa kita taruhannya. Aksi demo dengan kekerasan yang tidak ada perkembangan inilah yang akan membawa dampak buruk, aksi demo yang tidak sehat tidak bisa kita ikuti. Jangan menabur duri pada situasi seperti ini. Lakukan tugas masing-masing tanpa menyakiti, tanpa menggunakan kekerasan, dan jangan sampai kita lengah hingga akhirnya kita sendiri yang memecahkan persatuan ini.

Berorasilah dengan damai dengan hati yang tenang, gunakan cara orasi yang dapat menyatukan bangsa ini. Sudah tidak jarang kita mendengar tadarus puisi pada aksi demo mahasiswa. Cara ini sangatlah efektif dan harus diterapkan dalam aksi demo mahasiswa kedepannya. Dengan menyampaikan orasi melalui coretan bait-bait indah yang penuh makna akan membuat bangsa kita tetap utuh, tidak akan ada pahlawan yang gugur dikemudian hari akibat aksi demo. Buka mata kalian untuk melihat sastra, lihatlah sastra dari dekat jadikan sastra sebagai bagian dari orasi yang ingin kalian sampaikan. Berkenalan dan bersatulah dengan sastra, karena sastra dapat menjadi salah satu media berorasi tanpa adanya kekerasan. Sastra selalu berpihak pada rakyat, menampung keluh kesah yang dirasakan rakyat dan sastra selalu memeluk rakyat.

Karya sastra yang sering digunakan saat penyampaian orasi adalah puisi. Banyak sekali puisi yang pro terhadap rakyat, karena sastrawan sendiri jarang yang hidup pada keglamoran, mereka lebih senang hidup bersama rakyat, menuliskan keluh kesah rakyat pada puisi dengan bait-bait yang suci. Contonhya seperti puisi-puisi karya WS Rendra yaitu; Sajak Burung-Burung Kondor, Hak Oposisi, Kesaksian Tentang Mastodon, Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia, Kesaksian Akhir Abad, Maskumambang, Rakyat Adalah Sumber Ilmu, dan Pertanyaan Penting (Kenapa Kamu Bunuh Marsinah?). Ada juga puisi-puisi karya Joko Pinurbo yaitu; Tahanan Ranjang, Malam Pembredelan, dan Kisah Seorang Nyumin. Selain itu juga ada puisi-puisi karya Wiji Thukul yaitu; Sajak Peringatan, Bunga Dan Tembok, Nyanyian Akar Rumput, Nyanyian Abang Becak, dan Sajak Bagong. Dari ketiga penyair tersebut, puisi-puisi yang mereka tulis berisi tentang sindiran pada sistem politik yang ada dipemerintah, sistem politik yang sangat merugikan rakyat kecil namun menguntungkan tikus berdasi yang duduk digedung mewah itu.

Berorasi dengan puisi tentunya tidak mudah dilakukan semua orang, meskipun sudah banyak yang mulai menerapkan cara ini. Dampak baik berorasi dengan membacakan karya sastra seperti puisi yaitu dapat menekan angka kekerasan yang terjadi saat demo, dapat menghapus daftar korban jiwa yang telah gugur dan tentunya mengurangi adanya hoax yang timbul akibat aksi demo. Jadilah masyarakat yang pandai dan cerdas dalam memilah informasi dan jangan memakan berita secara mentah-mentah. Namun berorasi dengan membacakan puisi juga tidak semuanya membawa dampak baik. Id atau rasa kenikmatan yang begitu besar akan membuat masyarakat tidak sabar jika terus membacakan puisi pada saat aksi demo. Mereka butuh bukti bukan hanya sekedar janji. Jika pemerintah tidak segera menangani maka mereka tidak akan betah berlama-lama membaca puisi pasti akan segera melakukan tindakan agar pemerintah bekerja dengan cepat dan sigap.

Semua tindakan yang akan dilakukan alangkah baiknya dipikirkan dan direnungi terlebih dahulu apa akibatnya dikemudian hari. Berhati-hatilah dalam berorasi dan gunakan cara damai, jangan menambah angka kematian pada aksi mahasiswa turun kejalan. Menyatulah dengan apapun yang tidak menimbulkan kekerasan. Mencari media berorasi yang bisa menuntun kita agar aksi demo berjalan dengan lancar tanpa membawa rasa duka dan dendam. Ikut sertakanlah sastra didalamnya, karena sastra lebih tahu apa yang dirasakan rakyat dan apa yang diinginkan rakyat. Jangan menyakiti satu sama lain. Dengan bait-bait puisi yang dikemas indah dapat menjadi cara terbaik saat berorasi. Sindiran yang menohok untuk pemerintah dapat dituangkan pada sebuah bait puisi yang indah, tidak selamanya aksi demo berjalan dengan kekerasan dan memakan korban jiwa. Jadilah orang biasa yang menguntungkan bangsa sendiri bukan menjadi orang luar biasa yang merugikan bangsa sendiri.