Pentingkah Tata Kiat Prosa Lama itu?

Endar Pratiwi

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Malang

Membaca sastra adalah sebuah keharusan karena didalamnya terdapat manfaat yang akan terus mengalir. Membaca sastra dapat dijadikan sebuah hiburan dan permainan dalam khayalan, hanya saja tergantung bagaimana kita memahami tulisan sastra tersebut. Sastra memiliki banyak macam, salah satunya adalah prosa, dan seiring dengan berjalannya waktu prosa memiliki dua aliran, yakni prosa lama dan prosa baru. Namun sayangnya kehadiran prosa lama saat ini sudah mulai redup akan kepeminatannya. Ada apa dengan prosa lama saat ini? Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh para sastrawan bahkan kritikus, bagaimana tidak? Prosa lama yang merupakan bagian dari sastra ini semakin jauh tertinggal. Bukan hanya masalah zaman, namun ketertarikan untuk mempelajari bahkan mengembangkan prosa lama pun sangatlah minimalis. Prosa lama selalu menimbulkan pertanyaan baru, ada apa dengan isinya? Apakah kurang menarik?. Namun untuk pembaca generasi seperti mahasiswa hal itu bukanlah masalah lagi, karena prosa lama berkembang dengan cerita-cerita yang dapat diangkat dan sangat menarik, berisi wejangan untuk memotivasi diri bahkan orang lain, meskipun di dalamnya mengandung beberapa cerita mitos yang malah mampu membuka mata pembaca atau pendengar sebagai pandangan tentang dunia fantasi itu sendiri,

Saat ini minat baca masih menjadi perkerjaan rumah yang belum terselesaikan bagi bangsa Indonesia. Berbagai program telah dilakukan untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Untuk mewujudkan bangsa berbudaya baca, maka bangsa ini perlu melakukan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan langkah awal sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca. Masa anak-anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan tersebut, dan kebiasaan itu akan terbawa hingga anak tumbuh dewasa atau menjadi orang tua. Salah satu bagian yang terpenting dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah adalah memberikan pengenalan dan pengetahuan terhadap karya sastra, sehingga karya sastra dianggap menjadi sesuatu hal yang paling penting untuk dipahami oleh peserta didik. Namun, muncul sebuah pandangan bahwa apakah karya sastra anak dapat menimbulkan pengaruh terhadap minat baca? Jadi sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka dan menjadi anak yang gemar membaca sastra.

Dalam peradaban dunia sastra sudah dikenal sejak lama. Nusantara adalah wilayah yang kekayaan karya prosanya sangat luar biasa. Karya-karya prosa itu terbentang mulai dari karya prosa lama hingga prosa baru/modern. Kehadiran sastra sangat dihargai di Indonesia yaitu sekitar tahun 1930-an. Sastra merupakan wadah untuk mengapresiasi bentuk perasaan manusia maupun alam baik jasmni maupun rohani, sejarah seperti ini masih merupakan barang mewah yang sedikit peminatnya, dan menurut pandangan yang telah saya amati hingga sekarang sejarah sastra di Indonesia telah berlangsung relatif panjang dengan perkembangan yang dapat dibilang sangat pesat, sehingga dapat ditulis bebas secara panjang lebar. Kesalahan para penganut sastra adalah saat mereka meluncurkan prosa baru yang mengikuti zaman, mulai meninggalkan sejarah prosa lama dan jarang sekali mengenalkan sejarah bahkan jenis prosa lama kepada khalayak ramai termasuk anak-anak. Seharusnya ketika prosa baru mulai muncul dan banyak digemari, maka prosa lama juga harus tetap berdampingan dengan keadaan yang seimbang, yaitu sama-sama digemari dan dikembangkan di Indonesia, bukan malah sebaliknya. Di era milenial ini ahli sastra Indonesia dan generasi penerusnya mempunyai tantangan yang cukup besar yaitu mengolah bahkan menciptakan karya-karya sastra yang lebih menarik pembaca, karena untuk saat ini kedudukan buku-buku sastra sangat menurun dibandingkan dengan buku esai atau buku kritik lainnya. Sastra merupakan induk dari sebuah karya imajinasi yang dituangkan dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Perbedaan prosa lama dan prosa baru sebenarnya tidak jauh berbeda karena di dalam diri masing-masing prosa sama-sama memiliki nilai yang positif, yaitu sebuah cerita atau gambaran untuk menghibur pembaca. Hanya saja yang membedakan adalah kalau prosa lama lebih menceritakan tentang sejarah lama yang memiliki cerita-cerita yang biasa dibaca atau didengar masyarakat sedari kecil hingga ia beranjak dewasa, dan bersifat nasihat, moral, ajaran agama, pendidikan, adat dan cara berlisan yang terikat oleh aturan, sedangkan prosa baru lebih menceritakan cerita-cerita baru pada zaman sekarang dan lebih dominan dengan cerita roman sehingga kurang baik pula untuk dibaca anak usia dini. Meskipun banyak cerita prosa lama mengenai hal-hal yang khayal namun dengan cerita khayalan itu bisa mengembangkan cara berpikir (imajinasi) pembaca terutama anak-anak.

Dan pertanyaan selanjutnya yang sering muncul adalah bagaimana cara menata kembali kepopuleran prosa lama di era sekarang? Jawabannya adalah dimulai dari diri kita sendiri. Dimana kesadaran harus mulai dibangun dari diri kita masing-masing, mencintai prosa lama dari hal-hal yang kecil sederhana hingga menjadi sesuatu yang meluas. Cara yang kedua yaitu mulai menyalurkan aspirasi kita kepada orang-orang terdekat seperti membacakan dongeng sebelum anak tertidur untuk mengajak mereka sama-sama menggemari dan melestarikan prosa lama di tengah maraknya berita bahwa prosa baru lebih popular, mengenalkan kepada dunia anak-anak merupakan salah satu penanaman yang baik untuk masa depan juga. Selain itu cobalah untuk lebih dekat dengan anak sehingga mampu bercerita tentang hal-hal yang menarik dan lebih membatasi keseharian anak dengan telepon genggam karena telepon genggam juga merupakan kebiasaan negatif yang akan memperburuk cara berpikir anak. Pada saat ini sangat sedikit sekali ditemukan orangtua yang mendongeng untuk anaknya, padahal di sisi lain pada zaman dahulu mendongeng adalah hal yang lumrah dan sangat sering dilakukan ketika mengantarkan tidur, atau diceritakan oleh juru cerita dari kampung ke kampung, biasanya ketika masyarakat berkumpul di bawah terang bulan. Bentuk lainnya adalah dengan ditembangkan. Dengan cara seperti itulah secara tidak langsung anak-anak bisa mengetahui sejarah atau kebudayaan apa saja yang dimiliki Indonesia. Selain itu mendongeng pada anak juga membawa diri orang tua lebih dekat dengan anak dan lebih bisa merasakan perkembangan ananknya secara langsung.