Diduga Bicara Kasar, Karim Tewas Dibacok Tetangga

Lumajang, Motim - Diduga berkata kasar, Pairin alias Karim (65), warga Dusun Krajan, Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, dianiaya oleh tetangganya menggunakan sebilah sabit hingga tewas dengan kondisi mengenaskan berlumuran darah.
Kondisi mayat korban foto pelaku
Kondisi mayat korban
Korban mengalami luka bacok pada bagian pelipis kiri tembus pada bagian mata, pipi kanan dan kiri, mulut dan rahang kiri.

Peristiwa berdarah yang cukup menggemparkan masyarakat Desa Wotgalih itu terjadi pada Minggu (5/1), sekira pukul 15.30 WIB. Pelakunya bernama Samula (65), tetangga korban.

Kapolsek Yosowilangun, AKP Suhari, S.Pd saat dikonfirmasi Memo Timur menuturkan kasus penganiayaan ini sudah ditangani. Bahkan, pelaku sendiri sudah diamankan di rumah tahanan (Rutan) Polsek Yosowilangun berikut barang bukti berupa sabit masih ada bekas darah.

“Sabit yang digunakan menganiaya korban itu Mas,” tutur Kapolsek Yosowilangun.

Penganiayaan terjadi berawal saat pelaku datang menemui korban kala itu berada di kebun belakang rumah bermaksud hendak meminta tunas pohon pisang.

Namun, oleh korban tidak diberi. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba keduanya terlibat cekcok mulut dan hal itupun membuat pelaku emosi lalu membacokkan sabitnya ke arah korban berkali-kali.

Akibat bacokan pelaku tersebut, korban ambruk ke tanah dan tewas. Usai menganiaya, pelaku menyerahkan diri didampingi perangkat desa setempat.

“Perbuatan pelaku dijerat pasal penganiayaan yang mengakibatkan orang meninggal dunia,” tegas Suhari.

Terpisah, Samula (pelaku) saat ditemui media mengaku menyesali perbuatannya. Samula juga menjelaskan awal kejadian pada sore itu dirinya mendatangi korban di kebun belakang rumahnya berniat hendak meminta anakan tunas pisang atau bonggol pisang.

Belum sempat ngomong, korban berkata pada dirinya kalau mengambil anakan tunas pisang jangan sembarangan, biar tidak rusak. Karena dirinya kata korban tidak enak kepada pemilik kebun.

“Saya berkata kepada korban apabila belum mengambil anakan tunas pisang dimaksud dan masih mau meminta,” ungkapnya.

Karena omongan korban kasar, dirinya balik kanan berniat pulang. Entah setan mana yang membisiki dirinya, baru beberapa meter melangkahkan kakinya, tiba-tiba dirinya mengurungkan niatnya pulang lalu menemui korban lagi.

Karena saat ditemui korban tetap berbicara kasar, hal itu membuat dirinya juga berkata kasar kepada korban. “Oreng dekyeh riyah tangkel, orang seperti itu dibacok,”.

Korban menjawab juga dengan bahasa Madura “Tangkel lah, bacok lah,”.

Mendengar jawaban seperti itu, dirinya langsung membacokkan aritnya ke arah korban dan korban langsung roboh.

“Nyongok korban robbu, terus epoppo bik arek bik kauleh pon (melihat korban roboh, dirinya terus membacokkan aritnya ke arah korban es),”.

Saat ditanya apakah ada penyesalan atas perbuatannya, Samula menyampaikan ada. “Mungkin ini takdir Saya Pak,” pungkasnya.(cho)