Gunakan Telur Busuk, Pabrik Camilan di Tukum Ditutup

Lumajang, Motim - Pabrik camilan di Dusun Munder, Desa Tukum, Kecamatan Tekung ditutup oleh aparat berwenang, setelah ketahuan menggunakan bahan produksi yang tidak layak. Dalam produksinya, pabrik yang berdiri 2014 itu menggunkan telur busuk atau gagal tetas (invertil).
Aparat menutup pabrik camilan di Desa Tukum
Aparat menutup pabrik camilan di Desa Tukum
Jajaran Polda Jatim bersama Polres Lumajang, Badan Perlindungan Pengawasan Obat dan Makanan (BPPOM) Jatim, serta Pemkab Lumajang akhirnya menutup pabrik tak memiliki izin lengkap itu, Selasa (7/1).

Aparat berhasil mengamankan beberapa barang bukti. Diantaranya 5.000 butir telur invertil dan 1.000 butir telur invertil yang telah siap olah. Pelaku usaha, Imam Syafii pun mengakui jika menggunakan telur busuk sebagai bahan produksi.

Disebutkan, dalam tiap kali produksi, digukan 3.000 telur infertil. Dalam seminggu bisa melakukan produksi 4 kali. Pelaku mengaku mendapat telur dari Probolinggo dengan harga Rp 300 per butir.

Kepala Dinas Kesehatan Lumajang, dr Bayu Wibowo mengatakan, tentu camilan dari telur invertil ini berbahaya. Karena makanan yang berbahan dari telur yang tidak layak konsumsi itu biasanya tercemar bakteri ecoli.

“Karena bakteri ecoli ini biasanya hidup di usus bagian bawah, tapi kalau masuk di bagian atasnya bisa menyebabkan diare,” katanya.

Bayu juga mengatakan kalau bakteri ecoli itu termasuk akut, sehingga hanya butuh waktu 2–3 hari orang bisa diare. “Dan pada intinya kalau telur busuk itu sudah tercemar bakteri dan itu merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman,” ujarnya.

Dia juga mengungkapkan kalau hal itu sangat merugikan kesehatan apalagi pada anak-anak, karena daya tahan tubuh anak tidak sama dengan orang dewasa. “Dan perlu diketahui bahwa penyebab kematian anak di Indonesia pada kasus diare cukup tinggi,” pungkasnya. (fit)