Mengkhawatirkan! Dari 34, Tersisa 18 Ranu di Lumajang

Lumajang, Motim - Wakil Administrasi/KSKPH Perhutani Lumajang, Yus Yaser Arafat mengaku khawatir dengan kondisi sejumlah danau atau ranu di Lumajang. Ia juga takut, ada ranu yang hilang karena tak ada lagi mata air yang mengalir di sana.
Ranu Lading di Desa Sumberwringin Kecamatan Klakah
Ranu Lading di Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah
Apalagi, dari data yang diterimanya, awalnya ada 34 ranu di Lumajang. Kemudian diantaranya lenyap, tak ada airnya. Hingga saat ini, tersisa 18 ranu di Lumajang. Dari jumlah itu, 12 diantaranya berada di kawasan Perhutani.

“Habisnya ranu itu karena di hulu gak ada air,” katanya pada wartawan usai penanaman pohon di Ranu Lading, Desa Sumberwringin, Kecamatan Klakah, Rabu (22/1).

Seperti di Ranu Lading, menurutnya kondisinya memang sudah mulai memprihatinkan. Debit air di sana sudah menurun drastis. “Jadi kalau saya lihat di lokasi ada sengon, hutan lindung seharusnya gak boleh ditanami pohon yang diambil kayunya,” ucapnya.

Selain Ranu Lading, Ia juga khawatir dengan kondisi Ranu Klakah yang juga mengalami pendangkalan. “Dulu Ranu Klakah itu 300 meter, sekarang sudah pendangkalan jadi 15 meter,” ucap dia.

Hal ini terjadi menurutnya, salahsatunya dikarenakan setiap kali hujan, tanah di atas ranu turun. Karena sedikit pohon yang mampu menahan tanah dengan kuat. Sama seperti yang terjadi di Ranu Pani.

“Kalau setiap tahun ada pendangkalan, lama-lama rusak,” ucap dia.

Untuk mengantisipasi kerusakan yang lebih parah, pihaknya melakukan sejumlah upaya. Salahsatunya dengan melaksanakan penanaman pohon di sekitar ranu. Seperti di Ranu Lading ada sekitar 500 bibit pohon yang ditanam. (fit)