Tidur Berdesakan, Lapas Kelas IIB Over Kapasitas

Lumajang, Motim - Lembaga Pemasyarakatan kelas IIB Lumajang per 13 Januari 2020 dihuni sedikitnya 530 Narapidana atau warga binaan laki-laki dan perempuan dengan rincian 142 orang menempati kamar yang terletak di blok A, 113 0rang menempati kamar di blok B, 124 orang menempati kamar blok C.
Kepala KPLP Agung Hartono, Amd, SH
Kepala KPLP Agung Hartono, Amd, SH
Sejumlah kamar yang terletak di blok D ditempati sebanyak 134 orang. Khusus Narapidana perempuan berjumlah 12 orang ditempatkan di kamar yang terletak blok W.

Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyrakatan kelas II B Lumajang, Agung Hartono, Amd, SH ketika dikonfirmasi Memo Timur menyampaikan meski Lapas Lumajang ini dibilang over kapasitas, pihaknya tetap berusaha memberikan pelayanan terhadap Narapidana secara maksimal sesuai dengan ketentuan yang ada.

Hanya saja, sejak over kapasitas ini berlangsung para warga binaan ini tidurnya sedikit berdesakan satu sama lain.

“Tidurnya sedikit berdesakan saja,” tuturnya.

Kondisi itu membuat Lapas Lumajang berbenah bermaksud agar para warga binaan bisa menjalankan aktifitasnya dengan nyaman dan aman termasuk tidurnya juga nyaman, Lapas menjadikan gedung poliklinik Lapas yang luas sebagai kamar hunian.

“Gedung Poliklinik yang luas itu direhab menjadi dua ruangan untuk kamar hunian juga untuk Poliklinik. Sekarang tidak berdesakan lagi,” ucap KKLP Agung Hartono.

Ditanya apakah keamanan dan pengawasan juga ditingkatkan, apalagi Lapas Lumajang saat ini kondisinya over kapasitas Agung menuturkan sistem pengamanan untuk semua kamar hunian dibagi menjadi 3 tim dan masing-masing terdiri dari 10 personil untuk jaga pagi siang dan malam.

Jika sebelumnya, setiap tim baru dianggotai 4 personil, sekarang sudah dianggotai 10 personil. “Yang pasti pengamanan dan pengawasan Lapas sudah maksimal Mas,” ungkapnya.

Cara lain untuk mengantisipasi hal-hal yang dapat mengganggu keamanan di dalam Lapas, pihaknya juga melakukan pengawasan khusus untuk memantau prilaku semua warga binaan melibatkan intelijen.

Narapidana yang prilakunya dianggap berpotensi terhadap keamanan dalam Lapas dilaporkan kepada pimpinan yang kemudian dipindah ke Lapas tetangga, misalkan Lapas Pamekasan, Lapas Mojokerto, Lapas Malang, Lapas Bondowoso juga Lapas Jember.

“Meski over kapasitas, Lapas Lumajang aman terkendali. Oh ya, Napi teroris di Lapas Lumajang masih ada satu orang,” pungkasnya.(cho)