Dulu Kumuh, Kini RW 1 Kelurahan Ditotrunan jadi Kampung Sirih

Lumajang, Motim - Lingkungan di RW 1 Kelurahan Ditotrunan, sempat ditetapkan sebagai salah satu kampung kumuh di Kecamatan Lumajang. Namun kini berubah. Sudah terlihat bersih, indah, dan tertata. Bahkan ditetapkan sebagai 'Kampung Sirih', karena warga di sana banyak menanam sirih.
Indah Amperawati mendatangi Kampung Sirih di RW 1 Ditotrunan
Indah Amperawati mendatangi Kampung Sirih di RW 1 Ditotrunan
Kampung di RW 1 Kelurahan Ditotrunan itu mulai berubah ketika mendapat Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Pada 2019, dana yang diterima dimanfaatkan untuk mengubah kampung kumuh itu.

Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat RW 1 Kelurahan Ditotrunan, Rusdi Hariyono menyampaikan, pada 2019 ada 3 kelurahan yang mendapat bantuan program penanganan kampung kumuh. Selain di Ditrotrunan, juga di Jogotrunan dan Jogoyudan.

Kemudian khusus di RW 1, kata Rusdi, ketika program itu sudah selesai dilaksanakan, tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Warga ingin RW 1 yang sebelumnya kumuh, juga menjadi kampung yang ikonik.

Akhirnya semua warga di sana menanam sirih di rumahnya masing-masing. Sehingga ketika berkunjung ke kampung tersebut, banyak ditemui tanaman sirih. “Jadi kita jadikan Kampung Sirih,” kata Rusdi.

Kesuksesan RW 1 mengubah kampung kumuh ini, membuat Wakil Bupati Lumajang, Indah Amperawati datang ke sana, Sabtu (1/2/2020). Dirinya juga secara resmi menetapkan RW 1 menjadi Kampung Sirih.

Wabup tentu sangat mengapresiasi adanya perubahan tersebut. “Melalui Program Kotaku, sekarang berubah 180 derajat dan dirasakan oleh masyarakat. Menjadi kawasan yang bersih dan banyak spot selfie,” katanya.

Bunda Indah juga menyampaikan, Program Kotaku ini sebagai kegiatan pemberdayaan. Karena masyaraat ikut serta melaksanakan. Kemudian tidak hanya sesuai kegiatan, tapi masyarakat juga bisa mengembangkan.

“Mereka merasa daerah sekitarnya yang itu tidak terjangkau oleh anggaran mereka kembangkan (melalui iuran). Sedemikian efisiensi penghematan ini dilakuakan. Karena inilah bentuk swadaya masyarakat,” ujarnya.

Lanjutnya, jika kegiatan ini dilaksanakan oleh kontraktor atau dilelang, mungkin tidak akan bisa berkembang seperti ini. Mayarakat tidak akan merasa memiliki. “Kalau begini masyarakat ikut bekerja, dan ikut mengamankan, dan pasti mereka akan ikut memelihara,” jelasnya.

Ia pun berharap kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan di Kecamatan Lumajang, tapi juga di semua kecamatan lainnya. “Harus ada percontohan seperti ini. Agar kepala desa bisa meniru program ini melalui DD (Dana Desa) dan ADD (Alokasi Dana Desa) di luar Kotaku,” pungkasnya. (fit)