Iuran Pembelian Alat Drumband di SDN 2 Kebonagung jadi Masalah

Lumajang, Motim - Iuran pembelian alat drumband di SDN 2 Kebonagung, Sukodono jadi masalah. Pasalnya, walimurid yang dimintai iuran sudah melunasinya. Namun tiba-tiba pihak sekolah mengatakan walimurid masih punya tanggungan dan harus melunasinya.
Ketua Paguyuban SDN 2 Kebonagung Didi Hermanto
Ketua Paguyuban SDN 2 Kebonagung Didi Hermanto
Ketua Paguyuban SDN 2 Kebonagung, Didi Hermanto, menyampaikan pembelian alat drumband ini dilakukan pada 2017 atau 3 tahun yang lalu. Walimurid dikumpulkan dan sepakat untuk membeli alat drumband secara iuran dengan total Rp 30 juta.

Pembelian alat tersebut terlebih dulu menggunakan uang kepala sekolah saat itu Hj Supatmi. “Belinya tanpa wakil dari paguyuban, komite, atau guru yang ikut,” katanya pada sejumlah awak media, Selasa (4/2/2020).

Namun saat itu tidak ada masalah apapun. Baru menimbulkan masalah akhir-akhir ini. Didi menyebut, bermula saat salahsatu guru mengatakan walimurid memiliki hutang Rp 720 ribu. “Kita akhirnya bertanya, uang apalagi, kita sudah bayar,” ucapnya.

Akhirnya dirinya meminta nota pembelian drumband tersebut. Namun pihak sekolah tidak langsung menunjukkan nota itu. Setelah ditunjukkan, tercatat pembeliannya pada 2 September. “Padahal kita musyawarahnya 25 Desember,” ungkapnya.

Lanjutnya, harganya juga tidak sesuai. Padahal dulu kesepakatannya beli drumband dengan kualitas terbaik seharga Rp 30 juta. “Tapi ternyata harganya tak sampai segitu,” ujarnya.

Akhirnya dirinya komplain dan sudah dilakukan mediasi dengan pihak terkait. Namun tidak ada solusi terbaik. “Saya minta bagaimana baiknya, ada mediasi tapi belum ada keputusan,” ujar dia.

Sementara Kutua Komite Tulin, saat dikonfirmasi menyampaikan, saat pembelian alat drumband itu dirinya masih belum menjadi ketua komite saat itu. “Saya hanya menjadi walimurid saja saat itu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, hasil kesepakatan dulu walimurid sudah diminta iuran Rp 400 ribu. Ia juga menyebut persoalan ini sudah ada mediasi dengan kepala sekolah waktu itu tapi belum ada titik terang.

Dirinya sudah mengecek kualitas alat drumband itu ternyata bukan kualitas terbaik. “Katanya yang paling bagus, tapi ternyata yang biasa,” pungkasnya.

Sementara Hj Supatmi belum bisa dikonfirmasi terkait ini. Dirinya juga tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah di SDN 2 Kebonagung. Sudah pindah ke sekolah lain. (cho)