Dibangun di Lahan Warga, Rumah Adat Tengger di Ranupane akan Dikelola BUMDes

Lumajang, Motim - Pembangunan rumah adat Suku Tengger di Desa Ranupane, Kecamatan Senduro yang didanai oleh Kementerian Desa, terlihat hampir selesai. Nantinya rumah adat yang dibangun di lahan warga itu, akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat.
Rumah Adat Suku Tengger di Desa Ranupane Kecamatan Senduro
Rumah Adat Suku Tengger di Desa Ranupane Kecamatan Senduro
Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Ekonomi Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Lumajang, Nanik Indayati mengatakan, bangunan tersebut dikerjakan oleh Tim Pengelola Kegiatan Kemitraan (TPKK).

“TPKK di sana yang mengerjakan, orang Ranupane sendiri juga. Yang mengelola nanti BUMDes, bukan perorangan,” katanya pada Memo Timur, Kamis (5/3/2020).

Ia berharap proses pembangunan bisa secepatnya selesai. Targetnya pada bulan ini bisa selesai total. Sehingga bisa segera diserahkan pada pihak BUMDes. “Memang kalau fisik semuanya sudah selesai, tinggal tambahan-tambahan sedikit yang perlu diperbaiki. Di pertengahan Maret atau minggu ketiga Maret bisa selesai semua,” terangnya.

Diketahui, untuk pembangunan rumah adat ini, anggaran yang dikucurkan oleh Kementerian Desa mencapai Rp 350 juta. Sementara terkait bahan atau material yang digunakan tergantung hasil musyawarah dari TPKK.

“Untuk bahan itu hasil musyawarah teman-teman TPKK. Semuanya dengan berbagai macam pertimbangan,” kata Nanik.

Terkait lahan yang digunakan untuk membangun rumah adat tersebut, pemiliknya sudah bersedia dan tidak ada sewa. “Tidak sewa, tapi ada perjanjian dengan notaris, bahwa itu boleh digunakan untuk kegiatan masyarakat, bukan untuk perorangan,” ujarnya.

Namun nantinya jika ada pendapatan, baru akan ada perjanjian lebih lanjut. “Untuk sementara tidak sewa, jadi dipersilahkan untuk digunakan. Kalau untuk pengembangan desanya, beliaunya itu bersedia,” ucapnya.

Nanik menjelaskan, pembangunan rumah adat di Ranupane untuk pengembangan pariwisata di sana. Juga sekaligus meningkatkan perekonomian di kawasan Ranupane. Karena selama ini, Ia menyebut, pariwisata di Ranupane masih mengandalkan pendakian, belum yang lain.

“Sehingga perlu disentuh, apa yang perlu dibangun dari bantuan kementerian. Yang di sana belum ada, memang rumah adat. Selain itu juga kuda, yang di sana memang perlu dilestarikan. Jadi rumah adat perlu dilestarikan dan dikembangkan,” jelas dia.
Fungsi rumah adat ini menurutnya banyak. Pertama, untuk kegiatan adat. Kedua, untuk wisata, khusunya jika ada yang ingin mengetahui riwayat Desa Ranupane. Ketiga, menampung kesenian-kesenian lokal di sana.

“Juga untuk pembelajaran, untuk pelatihan. Di sana kan juga sudah ada gamelan untuk pembelajaran,” pungkasnya. (fit)