Guru Diminta Sumbang Beras 5 Kilogram untuk 'Ngeramut Tonggo'

Lumajang, Motim - Semua guru di Lumajang diminta ikut membantu warga yang terdampak pandemi Covid-19. Dinas Pendidikan Lumajang menghimbau para guru agar menyumbang beras dalam kemasan 5 kilogram.
Penyaluran bantuan beras
Penyaluran bantuan beras
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Lumajang, Agus Salim menyampaikan, beras tersebut disumbangkan melalui program 'Ngeramut Tonggo'. Dimana Gor Wira Bhakti dijadikan gudang sementara untuk menampung beras sumbangan dari masyarakat atau semua pihak.

“Kita peduli bersama, peduli tetangga. Kita sisihkan rezeki untuk menyumbang beras yang dikemas 5 kilogram. Kapan lagi, ini kesempatan kita, karena banyak saudara yang membutuhkan,” katanya, Senin (13/4/2020).

Lanjutnya, pihaknya tidak memaksa semua guru untuk menyumbang. Artinya tergantung kemampuan dan kesadaran masing-masing guru. “Kalau gak punya kemampuam untuk sodakoh ya tidak apa-apa. Tidak memaksa,” ucapnya.

Jika ada guru yang merasa mampu menyumbang lebih dari 5 kilogram, tentunya boleh-boleh saja. Karena ini sifatnya hanya himbauan dari Dinas Pendidikan dan tidak mengikat.

Kemudian, himbauan ini bukan hanya ditujukan pada guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) saja. Namun semua guru, dari guru pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak, (TK), sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP).

“Bukan hanya guru PNS. Tapi semuanya,” ujar Agus Salim.

Ia memperkirakan ada 10 ribu lebih guru di bawah naungan Dinas Pendidikan Lumajang. Untuk guru PNS saja, jumlahnya hampir mencapi 7 ribu orang. Jadi potensi bantaun dari para guru begitu besar.

Tak hanya guru saja, pihaknya juga menghimbau kepada pegawai di lingkungan Dinas Pendidikan untuk ikut menyumbang. Termasuk para pengawas. “Kita ajak semuanya, untuk bersama-sama membantu,” tuturnya.

Menurutnya respon dari para guru untuk membantu sudah mulai nampak. Misalnya dari kalangan guru TK di Lumajang saja, saat ini sudah terkumpul 5 ton. “Alhamdulillah cukup antusias, ini dapat laporan dari IGTKI (Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia) sudah 5 ton lebih,” pungkasnya. (fit)