MUI Lumajang Larang Shalat Jumat di 7 Kecamatan

Lumajang, Motim - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lumajang mengeluarkan maklumat terkait larangan shalat Jum’at di sejumlah kecamatan di Lumajang. Sementara ini ada 7 kecamatan yang diminta tak menggelar shalat Jum’at untuk sementara ini.
Ketua MUI Lumajang, KH. Achmad Hanif
Ketua MUI Lumajang, KH. Achmad Hanif
Maklumat ini dikeluarkan oleh MUI Lumajang mengingat akan bahaya penyebaran Virus Corona di kecamatan tersebut. Adapun 7 kecamatan itu mengacu pada peta sebaran Covid-19 yang dikeluarkan oleh Pemkab Lumajang.

Kecamatan itu sudah masuk zona merah. Diantaranya Kecamatan Sukodono, Randuagung, Kedungjajang, Lumajang, Tempeh, Pasirian, dan Pronojiwo. Di kecamatan itu, sudah ada warga yang dinyatakan positif Corona dan atau pasien dalam pengawasan (PDP).

“Maka perlu untuk daerah penyebaran Covid-19 yang mengancam jiwa, maka umat Islam tidak boleh menunaikan shalat Jum’at di daerah itu. Sampai waktu normal lagi,” kata Ketua MUI Lumajang, KH. Achmad Hanif pada sejumlah wartawan, Rabu (1/4/2020).

Khusus di 7 kecamatan itu, shalat Jum’at diganti dengan shalat dhuhur di rumah masing-masing. Ia pun berharap masyarakat mematuhi hal ini. Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bupati Lumajang, Thoriqul Haq juga.

“Apa yang disampaikan oleh bupati, kita wajib mematuhi apa yang disampaikan itu. Apapun yang diumumkan oleh pemerintah, maka kita sebagai warga dan masyarakat di Lumajang ikut terikat,” jelasnya.

Lanjutnya, kedepan, jumlah kecamatan yang dilarang mendirikan shalat Jum’at ada kemungkinan bertambah. Hal ini juga akan mengacu pada update peta sebaran Covid-19 yang dikeluarkan oleh Pemkab Lumajang.

MUI sudah menyampaikan hal ini ke seluruh masjid yang ada. “Takmir-takmir tidak mempermasalahkan. Mudah-mudahan tidak ada masalah. Ini bukan berarti shalat jum’at tidak wajib, tapi kondisinya untuk menyelamatkan jiwa,” ungkapnya.

Selain shalat Jum’at, KH. Achmad Hanif menambahkan, kegiatan keagamaan yang sifatnya melibatkan orang banyak juga harus ditiadakan. Bahkan untuk sholat fardu di masjid atau mushalah jika dengan jemaah jumlah besar, juga perlu ditiadakan.

“Pokoknya yang sekiranya jumlahnya banyak, kita minta untuk sementara ditiadakan,” ucapnya. (fit)