Ibu Almarhum Tuntut Outopsi

Lumajang, Motim - Masih ingatkah kasus meninggalnya almarhum Khoirul Arifin, karyawan BMT Sidogiri yang berkantor di jalan raya Desa Candipuro, Kecamatan Candipuro, yang diduga terlibat perkelahian dengan teman sekantornya beberapa waktu yang lalu berbuntut panjang.
Suwani, Ibu almarhum korban bersama kuasa hukumnya
Suwani, Ibu almarhum korban bersama kuasa hukumnya
Kabarnya, orang tua almarhum bernama Suwani, didampingi kuasa hukumnya pada Senin (18/5/2020), siang mendatangi Polres Lumajang untuk mempertanyakan keberlanjutannya kasus yang menimpa anaknya tersebut.

Juga menuntut Outopsi terhadap Jenazah anaknya serta menanyakan hasil muntahan cairan almarhum yang dibawa ke Labratorium Forensik Polda Jatim.

Dummy Hidayat, SH selaku kuasa hukum Ibu Suwani kepada sejumlah media mengatakan, dua hari setelah kematian anaknya dia ini ditagih oleh beberapa nasabah tabungan yang dikelola almarhum. Padahal itu merupakan tanggung jawab dari BMT Sidogiri.

Menurutnya dua hari setelah musibah itu, pihak BMT Sidogiri datang ke rumah almarhum ditemui oleh orang tua almarhum bersama kerabatnya dan menyampaikan mau bertanggung jawab terhadap dana nasabah yang dikelola almarhum hanya sebesar 500 juta.

Padahal faktanya, berdasarkan tagihan beberapa nasabah yang datang ke rumah almarhum jumlahnya lebih dari 1 Miliar.

Kondisi ini membuat pihaknya menuntut kepolisian melakukan Outopsi terhadap jenazah korban.

Tuntutan melakukan Visum Et Repertum atau Outopsi kata Dummy merupakan kewenangan penyidik atas suatu peristiwa pidana (tidak harus izin keluarga), yang diatur dalam pasal 133 KUHAP.

"Kenapa harus dilakukan Outopsi, karena hal ini sangat penting untuk mengetahui penyebab kematian almarhum," tutur Dummy Hidayat, Pengacara asal Kota Malang.

Kasus yang menimpa alamarhum ini sudah genap sebulan. Namun hingga saat ini belum ada titik terang. Bahkan sampel cairan atau muntahan dari mulut korban yang sudah diambil petugas untuk dibawa ke Laboratorium Forensik Polda Jatim belum tahu hasilnya. Termasuk hasil Closed Cirkuit Television (CCTV) yang katanya dirusak untuk dijadikan bukti.

"Dengan hasil dua bukti itu bisa menjadi pertimbangan kami untuk membuat laporan polisi (LP) baru atau tidak," ungkapnya.

Dummy juga menjelaskan isi tas kecil milik almarhum ada yang hilang, diantaranya sebuah Handphone merk OPPO F9, kartu ATM Bank Mandiri, buku catatan tabungan nasabah dan buku catatan orang yang berhutang kepada almarhum juga ada barang berharga lainnya.

Hal ini juga diketahui oleh saksi yang bernama Mustaqim, yaitu bahwa malam hari sebelum kejadian, almarhum mengajak untuk diantar potong rambut di salah satu salon yang terletak di wilayah Pasirian. Tas milik almarhum biasa dibawa oleh Mustaqim, karena teman dekatnya sehingga tahu persis isi tas termasuk malam itu ada uang tunai sebesar Rp. 7.000.000 (Tujuh Juta Rupiah).

Dummy juga mengatakan Mustakim juga ikut memandikan jenazah almarhum, dia melihat ada benjolan di kepala bagian depan dan memar di bagian punggung.

"Mungkin dengan cara ini kematian anak klien kami terungkap dengan sebenarnya. Biar tidak misteri," pungkasnya.

Berita sebelumnya, diduga terlibat perkelahian dua karyawan BMT Sidogiri yang berkantor di jalan raya Desa Candipuro Kecamatan Candipuro dilarikan ke Puskesmas Candipuro pada Rabu (18/4/2020).

Dua karyawan itu bernama Deni Mahmud asal Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro mengalami luka robek pada bagian kepalanya dan satu karyawan lagi bernama Khoirul Arifin asal Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo diketahui sudah meninggal dunia.(cho)