Pencurian Udang di PT Bumi Subur, Kerugian Rp 7 Miliar

Waker Cs Bayar Ganti Rugi Rp 4 Miliar

Lumajang, Motim - Dugaan pencurian udang milik PT Bumi Subur yang terletak di wilayah Dusun Meleman, Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, yang dilakukan oleh penjaga atau waker berinisial AMR Cs ditangani Unit Pidana Umum Satuan Reserse Kriminal Polres Lumajang.
Manager PT Bumi Subur Asmin
Manager PT Bumi Subur Asmin
Informasinya sudah ada 10 karyawan PT Bumi Subur yang sudah dipanggil penyidik Pidana Umum Sat Reskrim Polres Lumajang, untuk dimintai keterangan terkait dugaan pencurian udang tersebut. Mulai dari Manajer, tehnisi, penjaga alias waker, juga sejumlah karyawan. Termasuk 3 orang yang diduga sebagai pembeli.

Kasat Reskrim Polres Lumajang, AKP Masykur, SH ketika dikonfirmasi via WhatsApp menuturkan bahwa LP ditangani Kasi Pidum. “Iya LP dintangani Pidum,” katanya pada Memo Timur.

Secara terpisah, Manajer PT Bumi Subur, H. Asmin saat dikofirmasi di kantornya, membenarkan kejadian itu dan sudah ditangani polisi. Bahkan, Ia juga mengaku sudah diperiksa polisi, atas dugaan pencurian udang dengan kerugian sebesar Rp 15 miliar itu.

Sehingga awalnya pihak perusahaan meminta ganti rugi sebesar Rp 15 miliar. Namun setelah ada negoisasi, akhirnya disepakati oleh perusahaan ganti rugi yang harus dibayar sebesar Rp 7 miliar. Dimana rinciannya, Rp 4 miliar ditanggung waker AMR Cs.

“Dan ini sudah disepakati dan hari ini sebagian mau dibayar. Selebihnya dibayar lepas lebaran,” katanya.

Sisanya Rp 3 miliar dibebankan pada manajer, tehnisi dan karyawan. Ia menyampaikan, untuk membayar kerugian itu, mereka sepakat dipotong gaji dan bonus. “Kami sudah sepakat, namun kami masih akan mengajukan ganti rugi tersebut untuk dipotong biaya operasional satu musim. Tapi masih dalam proses pengajuan,” terangnya.

Kemudian ketika ditanya, apakah memang benar dirinya mendapat uang dari hasil penjualan udang curian itu, H. Asmin mengakui itu. “Iya, tapi besarannya hanya cukup untuk membeli pulsa. Jika menolak, akan hujan tamu dan Saya diancam tambak akan diracun,” tegasnya.

Ia menambahkan, dugaan pencurian seperti ini menurutnya sudah biasa dilakukan ketika musim panen. “Sudah biasa ketika musim panen, tapi dijual kemana Saya tidak tahu,” pungkasnya. (cho)