Tewasnya Karyawan BMT Sidogiri Masih Dalam Lidik

Lumajang, Motim - Kasus tewasnya karyawan BMT Sidogiri bernama Khoirul Arifin (28), asal Dusun Gumukmas, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, pada Rabu (18/4/2020), yang lalu masih dalam proses lidik unit Reserse Kriminal Polsek Candipuro.
Kantor BMT Sidogiri
Kantor BMT Sidogiri
Keterangan ini disampaikan Kapolsek Candipuro, AKP Sajito, SH kepada Memo Timur via teleponnya pada Rabu (6/5/2020).

Menurut Kapolsek Candipuro, pihaknya masih belum mengetahui kronologis kejadian itu yang sebenarnya. Tapi di lokasi kejadian ada Closed Circuit Telivision (CCTV) masih belum dibuka juga ketika Khoirul Arifin dirawat di Puskesmas sempat muntah dan muntahannya itu sudah dikirim ke Laboratorium Forensik Polda Jatim dan hasilnya belum turun.

“Untuk melakukan proses Lidik lebih lanjut, kami masih menunggu hasil Laboratorium itu Mas,” tuturnya.

Saat ditanya kondisi Deni Mahmud, warga Dusun Widosari, Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro yang diduga terlibat perkelahian bersama almarhum Khoirul Arifin, Kapolsek menyampaikan kondisinya sudah sehat. Bahkan dia sudah dimintai keterangan terkait kasus yang terjadi itu. “Dia sudah sehat dan sudah dimintai keterangan,” terangnya.

Kapolsek menuturkan, Deni Mahmud dengan almarhum Khoirul Arifin merupakan teman akrab dan sudah berteman kurang lebih 8 tahun lamanya. “Katanya keduanya ini tidak pernah ada masalah,” tuturnya.

Saat ditanya apakah sebelumnya keduanya terlibat salah faham atau berkelahi, Kapolsek Sajito mengatakan tidak.

Menurut keterangan Deni, tiba-tiba dirinya dipukul dari belakang oleh Khoirul Arifin menggunakan benda keras.

“Sempat kami rencanakan untuk dilakukan Outopsi. Tapi keluarganya keberatan. Hasil pemeriksaan luar oleh dokter tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan,” tegasnya.

Terpisah, Suani, ibu kandung almarhum Khoirul Arifin menjelaskan, sekitar 6 bulan kemarin almarhum rapat di Sidogiri. Sepulang dari rapat almarhum curhat jika dirinya mau berhenti kerja di BMT Sidogiri.

Mendengar omongan almarhum, dirinya berkata jangan berhenti. Saat ditanya sebenarnya ada masalah apa, kala itu almarhum menjawab dengan bahasa Madura “tak ekenyaman kancah,” artinya tidak disukai teman.

Meski demikian dirinya selaku ibu kandungnya langsung memberikan nasehat supaya almarhum tetap bekerja sesuai amanah yang diberikan oleh BMT Sidogiri.

Alhamdulillah almarhum mau bekerja hingga akhirnya meninggal dunia dalam peristiwa itu.

“Saya bersama keluarga datang ke Puskesmas Candipuro, anak Saya sudah meninggal dunia. Yang Saya ingat pada kepala bagian depan benjol dari hidung keluar darah,” ungkapnya. (cho)