Ancam Demo! Nelayan dan Petani Protes Limbah PT Bumi Subur

Lumajang, Motim - Para nelayan dan petani di Dusun Meleman, Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun memprotes limbah yang dibuang oleh perusahaan tambak udang PT Bumi Subur. Bahkan mereka pun mengancam akan melakukan demo pada perusahaan yang ada di desa setempat.
Nelayan dan petani saat ditemui wartawan
Nelayan dan petani saat ditemui wartawan
Demo itu terpaksa akan dilakukan jika aspirasi mereka tidak didengarkan oleh pihak tambak. Salahsatu nelayan menyampaikan, limbah dari perusahaan yang dibuang ke laut itu diduga mengakibatkan ikan di sana berkurang. Nelayan mengakui, tangkapan mereka minim.

Salahsatu petani menyampaikan, sawahnya mulai tidak produktif, diduga karena adanya rembesan air asin. Kelompok petani, nelayan, dan tokoh masyarakat setempat pun mengaku akan bersama-sama mendatangi tambak udang terkait hal ini.

Diketahui tambak udang sudah beroperasi selama kurang lebih 30 tahun, milik pengusaha asal Banyuwangi. Warga menyebut, harusnya dari pihak perusahaan sudah bisa bertanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan setempat.

“Sudah lama kami bersabar kira-kira 30 tahunan gara-gara tambak udang masyarakat Meleman hidup susah, karna tanahnya tidak bisa produksi hingga hidup jadi sengsara,” ungkap warga setempat yang enggan namanya disebutkan.

Ia mengaku, warga di sana sudah lama bersabar karena tidak bisa berbuat apa-apa karena keluhan tersebut diabaikan oleh pihak tambak hingga saat ini. Bahkan kata dia, jika pihak tambak udang tidak bisa mengatasi keluhan warga, meminta agar perusahaan tersebut ditutup.

Dampak limbah dari PT Bumi Subur ini, duga juga sampai ke desa lainnya. Diantaranya, warga mengeluh karena ladangnya selalu kena banjir bila musim hujan. Gara-gara aliran sungai tidak begitu lancar, karna ada penyempitan ke sungai di duga oleh lokasi tambak tersebut.

Sejumlah nelayan dari Desa Paseban, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, pun mengaku hal yang sama. Salahsatu dari mereka, mengatakan waktu panen udang, diduga pihak tambak menggunakan obat untuk memudahkan menangkap udang.

Namun, akibat pemberian obat tersebut menyebabkan air limbah yang lolos mengalir terus ke sungai dan langsung ke laut tanpa adanya endapan. Limbah yang langsung mengalir tersebut mencemari sungai dan laut yang akibatnya membuat ikan menjauh.

Mereka mengaku sudah menyampaikan ini kepada pihak tambak, namun tetap saja tidak ada tanggapan positif dari pihak tambak. Justru, menurutnya pihak tambak merayu para nelayan dengan janji akan dipekerjakan sebagai karyawan.

Para nelayan ini pun akan kembali menyampaikan aspirasi pada PT Bumi Subur. Agar bisa mengelolah limbah dengan baik. Agar limbah tidak langsung mengalir ke sungai dan laut. Dengan begitu para ikan tidak menjauh dan tangkapan para nelayan bisa meningkat.

“Saya atas nama perwakilan dari segenap para nelayan khususnya dari nelayan Desa Paseban angkat bicara, kepada pihak tambak PT. Bumi Subur, kami sudah cukup sabar dari dulu, tetapi sekarang sudah tekad untuk maju membela hak para nelayan supaya memenuhi permintaan kami dengan membuat tandon untuk limbah jika tidak kami pastikan unjuk rasa dan tutup tambak,” tegas salahsatu nelayan. (cho/fit)