Kuasa Hukum Somasi Oknum DPRD, Minta TR Kembalikan Aset AM

Lumajang, Motim - Kuasa Hukum dari AM, Mahmud, SH melayangkan somasi pada oknum anggota DPRD Lumajang berinisial TR. Ia meminta TR mengembalikan aset milik AM, yang sebelumnya dikatakan untuk membayar ganti rugi dugaan pencurian udang di PT Bumi Subur.
Kuasa hukum dari H. Amari, Mahmud, SH.
Kuasa hukum dari H. Amari, Mahmud, SH.
“Saya diminta oleh AM, mengambil semua aset, meminta supaya dikembalikan yang sudah diserahkan ke Pak TR,” katanya pada wartawan, Kamis (25/6/2020).

Ia menegaskan, ada beberapa hal yang mendasari somasi ini. Pertama, Ia masih bingung posisi TR dalam perkara dugaan pencurian udang di PT Bumi Subur. “Itu kan ditangani oleh TR, Saya juga bingung, TR posisinya dimana? Di satu sisi kita semua tahu beliau anggota dewan,” ucapnya.

“Di sisi lain katanya mendapat kuasa dari Direktur PT Bumi Subur, Pak Hendra. Di sisi lain, katanya mau bantu AM menyelesaikan persoalan ini. Saya bingung posisi beliau ini dimana, anggota dewan kah, kemudian mewakili perusahaan kah, atau mewakili AM, ini tidak jelas,” lanjutnya.

Mahmud menegaskan, dari ketidakjelasan sejak awal ini, kliennya sudah merasa sangat dirugikan. Misalnya, dulu TR berjanji akan membantu menyelesaikan perkara dugaan pencurian udang tersebut. Serta berani menjamin perkara itu tidak jalan.

“Artinya selesai secara kekeluargaan di Polres, dan sampai hari ini ternyata janjinya tidak sesuai. Karena kemarin ada beberapa orang dipanggil sebagai saksi, nah ini kan sebagai indikasi bahwa pekara jalan terus. Sedangkan AM sudah mengeluarkan sejumlah uang atau aset. Sudah tidak sesuai dengan janjinya,” terangnya.

Namun, kata dia, dari perhitungan Am, Ia mengalami rugi banyak. “Dari mobil Yaris itu dulu dibeli Pak Aman, adiknya AM dari TR seharga Rp 225 juta, pembayaran dalam kurun waktu 5 tahun. Dan sudah masuk uang Rp 125 juta. Akan tetapi ketika diserahkan ke TR, itu hanya dihargai Rp 75 juta, ini sudah rugi Rp 50 juta,” katanya.

“Kemudian, sebidang tanah, yang dulu, atau 3 tahun lalu dibeli Rp 1,3 miliar. Kalau misalnya dijual sekarang, Rp 1,5 miliar mungkin laku. Akan tetapi saat diserahkan ke TR, katanya dibeli sendiri, itu hanya dihargai Rp 1 miliar. Coba bayangkan berapa ruginya AM itu. Ditambah lagi jaminan sebidang tanah sebesar Rp 675 juta. Ini gak jelas untuk apa,” ucapnya.

Kemudian alasan lain, kenapa harus menarik semua aset AM dari TR, Mahmud menegaskan, selama ini AM tidak pernah menerima tanda bukti penyerahan apapun. “Baik sejumlah uang, penyerahan sebidang tanah, penyerahan jaminan, tidak ada itu,” terangnya.

“Misal uang tunai Rp 425 juta sudah diserahkan ke TR. Itu tidak ada tanda bukti penerimanya. Apakah sudah diserahkan ke Pak Hendra selaku Direktur PT Bumi Subur, atau diserahkan ke penyidik, pakai uang titipan, ini tidak jelas. Atau mungkin masih disimpan sendiri oleh TR, ini AM tidak tahu,” ungkapnya.

Tak hanya itu, waktu yang diberikan pada AM untuk membayar kerugian tersebut dinilai terlalu singkat. AM harus membayar sekitar Rp 4 miliar hanya dalam kurun waktu 2 bulan saja.

“Misalnya, ketentuannya, sebelum lebaran itu sudah harus mengembalikan Rp 2 miliar, setelah lebaran yang Rp 2 miliar atau Rp 1,8 miliar. Ini harus diselesaikan pada akhir bulan Juni,” kata dia.

Mahmud manyampaikan, ada juga perbedaan perlakuan pada AM dalam perkara dugaan pencurian udang ini. “Maksud Saya begini, ini kan dugaan kasus pencurian, akan tetapi barangnya itu dijual, katanya tidak ada kejahatan penadah. Loh padahal dari segi kecurigaan, perusahan tidak pernah jual ecer pada masyarakat sekitar,” tegasnya.

“Jadi kan lucu, AM diduga melakukan pencurian, tapi barangnya dijual secara sah. Padahal kan masyarakat sekitar tahu, bahwa yang berhak menjual itu hanya perusahaan. Apalagi ini sampai senilai katanya Rp 15 miliar. Ini kan luar biasa,” pungkasnya. (cho/fit)