Mencuat Isu Dugaan ‘CLBK’ Antara Bu Kades dengan Sekdes Sukorejo

Lumajang, Motim - Isu dugaan Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK) antara Bu Kepala Desa Sukorejo Kecamatan Kunir berinisial SW, dengan bawahannya yang menjabat Sekretaris Desa berinisial MR, mencuat di kalangan warga setempat. Isu tersebut ramai diperbincangkan warga dalam sebulan terakhir.
Surat aduan yang dikirim ke Bupati Lumajang Thoriqul Haq
Surat aduan yang dikirim ke Bupati Lumajang Thoriqul Haq
Istri dari Sekdes, EN, ketika dikonfirmasi membenarkan hal itu. Bahkan Ia berani mengadukan hal ini ke Bupati Lumajang, Thoriqul Haq. Surat pengaduan sudah Ia layangkan pada Jumat (5/6/2020).

Surat tersebut ditembuskan pula ke Wakil Bupati Lumajang, Inspektorat Lumajang, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Lumajang. Wanita berusia 41 tahun itu juga memberikan salinan surat pengaduan pada pihak Memo Timur.

Untuk memperkuat pengaduan, Ia memberikan bukti obrolan di aplikasi whatsapp antara suaminya dengan kades. Obrolan itu menunjukan kemesraan antara keduanya, yang membuat EN terbakar api cemburu.

Dirinya menceritakan, awalnya rumah tangganya bersama MR baik-baik saja. Kemudian Ia menemukan bukti obrolan mesra antara suaminya dengan kades pada 14 April 2020. EN menyebut, kades tersebut merupakan mantan istri dari MR. Jadi, seperti ada cinta lama bersemi kembali.

“Waktu itu saya menemukan chatting-an kedua orang itu, kok lagaknya manja-manjaan. Ada istilah kangen, ada istilah sayang. Lah wong sudah sama-sama tua bilang kangen, loh kangennya apa,” ucapnya.

Berawal dari situ EN kemudian meminta penjelasan suaminya. Ternyata pria berusia 36 tahun itu membenarkan hal tersebut. Setelah mengakui perbuatannya, MR berjanji akan mundur dari jabatannya sebagai Sekdes Sukorejo.

Namun pada 23 April 2020, MR pergi dari rumah tanpa pamit pada EN. Sampai saat ini suaminya tak kembali. Bahkan yang bersangkutan nampaknya masih belum mengundurkan diri sesuai janjinya.

“Kabarnya sampai hari ini kok masih bekerja. Kabarnya masih aktif,” terangnya.

Dirinya kini sudah tak bisa berkomunikasi dengan suaminya. Ia sudah berusaha menghubungi suaminya via telepon, agar kembali pulang. Tetapi nomor ponselnya sudah diblokir. “Tidak ada komunikasi. Malah nomer saya diblokir,” ungkapnya.

Karena sudah merasa kesal, akhirnya Ia nekat mengadukan kejadian ini pada bupati. “Saya merasa keberatan, maka Saya melaporkan pada bupati. Sehingga tindaklanjutnya Saya serahkan pada bapak bupati,” tegasnya.

Sebelum mengadu ke bupati, EN sudah mengadu pada Camat Kunir pada 4 Mei 2020. Tetapi menurutnya belum ada tindak lanjut oleh pihak kecamatan atas suratnya tersebut.

Melalui surat aduan yang Ia layangkan pada bupati, EN meminta 3 hal. Pertama, meminta bupati memanggil Sekdes Sukorejo agar memberikan teguran maupun sanksi padanya.

Kedua, EN meminta bupati memanggil Kades Sukorejo untuk memberikan teguran dan sanksi juga. Karena Ia menilai Kades Sukorejo, sangat tidak layak dan tidak pantas menjadi pimpinan. Ketiga, Ia meminta agar MR diberhentikan dari jabatannya sebagai Sekdes Sukorejo.

Pihak Inspektorat Lumajang saat dikonfirmasi mengenai surat aduan ini, membenarkan telah menerima tembusan surat tersebut. “Sudah kemarin (Jumat, 5 Juni 2020) terimanya,” kata Sekretaris Inspektorat Lumajang, Dinuk Iswahyuningsih, melalui pesan whatsapp, Sabtu (6/6/2020).

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan dan Desa, Syamsul Arifin ketika dikonfirmasi, mengatakan kemungkinan surat itu sudah diterima pihaknya. Namun belum ada di meja kerjanya. “Mungkin masih di TU (Tata Usaha), belum di meja Saya,” ucapnya juga melalui pesan whatsapp.

Sementara Kades Sukorejo ketika dikonfirmasi Memo Timur terkait ini, masih belum bisa memberikan keterangan. “Ketemu langsung mawon pak, kalau ada waktu jenengannya. Sekarang tasek ada ketemuan sama kades-kades pak,” katanya melalui pesan whatsapp.

Ketika hendak ditemui Memo Timur, dirinya mengaku masih ada kesibukan lainnya. “Sore ini masih kejaksaan pak,” pungkasnya. (cho)