PT Bumi Subur Diduga Buang Limbah Tambak Udang ke Laut

Lumajang, Motim - Perkara dugaan pencurian udang di PT Bumi Subur oleh para karyawan masih ditangani Polres Lumajang. Namun ada fakta-fakta mencengangkan dalam perkara ini. Setelah diketahui ada oknum anggota DPRD Lumajang masuk dalam perkara, ditemukan fakta lagi, diduga limbah perusahaan itu dibuang ke laut.
Saluran yang diduga menjadi tempat pembuangan limbah
Saluran yang diduga menjadi tempat pembuangan limbah
Sejumlah wartawan sudah mendatangi langsung perusahaan yang berada di Dusun Meleman, Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun itu, Jumat (5/6/2020). Wartawan ingin menanyakan beberapa hal langsung ke pihak manajemen.

Namun kedatangan wartawan hanya tertahan di depan gerbang masuk. Tak bisa masuk ke dalam perusahaan yang berada di pesisir itu. Sekelompok orang yang berada di depan gerbang dan mengaku karyawan, mengatakan jika manajemen tidak ada. Manajer dan Direktur tak berada di tempat.

Akhirnya wartawan hanya melakukan pemantauan di sekitar lokasi perusahaan tambak udang itu. Kemudian ditemukan, adanya 2 saluran yang diduga menjadi pembuangan limbah. Saluran pembuangan limbah tersebut langsung menuju ke laut.

Sejumlah karyawan ketika ditanya ini, membenarkan jika itu merupakan saluran limbah. Saluran pertama merupakan muara sungai yang melewati area perusahaan. Namun sungai tersebut juga menjadi tempat pembuangan limbah. Sehingga limbah ikut terbuang ke laut.

Saluran kedua, memang benar-benar murni saluran pembuangan limbah. Saat itu memang tidak begitu terlihat kotoran limbah yang terbuang ke laut. Namun warga sekitar menyebut, ketika musim panen udang tiba, kotoran limbah yang terbuang sangat terlihat.



“Kotorannya terlihat langsung sangat banyak terbuang ke laut. Seperti bekas-bekas pakan udang,” kata warga yang enggan disebutkan namanya.

Warga lainnya, Halim menyampaikan, kondisi seperti ini sudah berlangsung lama. Bahkan beberapa kali diprotes oleh warga, karena pihak perusahaan juga melakukan penyempitan pada sungai itu.

“Dampaknya, ketika hujan deras, air sering meluap. Perusahaan sudah berkali-kali janji akan menormalisasi sungai itu, namun hingga saat ini masih belum dilakukan,” tegasnya.

Seorang nelayan menyampaikan, terganggu dengan limbah yang dibuang perusahaan ke laut. Mereka kini jadi lebih jauh melautnya untuk mendapatkan ikan. Karena ikan di pinggiran pantai sangat sedikit akibat adanya limbah.

“Jadi kita juga rugi bahan bakar juga. Jadi kebutuhan bahan bakar juga lebih banyak. Karena harus jauh ke tengah laut,” ucap salahsatu nelayan.

Manajer PT Bumi Subur, Asmin ketika dikonfirmasi, eggan memberikan jawaban. Karena saat ini Ia mengaku tak punya wewenang untuk bicara terkait perusahaan. “Sekarang Saya tidak punya hak bicara, masalah tambak semua di handel Pak Jumali. Maaf,” ungkapnya melalui pesan whatsapp.

Sementara Direktur PT Bumi Subur, Hendra Sutejo ketika dikonfirmasi terkait ini, mengatakan, pihaknya selama ini sudah mematuhi ketentuan. “Itu mestinya orang yang ahli yang mengkaji. Di tambak itu tidak ada limbah seharusnya. Apapun ketentuan, pokoknya kita ikuti,” katanya, saat dihubungi via telepon.

Ditanya terkait limbah yang dibuang ke saluran sungai, Ia membantah hal itu. “Saya gak ngerti yang limbah dibuang ke sungai. Biasanya ada endapan, kan endapan di saluran itu,” terangnya.

Sedangkan terkait adanya nelayan yang terganggu ketika panen udang tiba, Ia tak membenarkan hal itu. “Soalnya di sekitar tambak, banyak orang yang mancing ikan,” pungkasnya. (cho/fit)