Kasus Penghinaan Nabi Muhammad, MUI: Masyarakat Harus Bijak Bersosial Media

Lumajang, Motim - Kasus penghinaan Nabi Muhammad sudah masuk di meja persidangan. Terdakwa, berinisial EW harus berhadapan dengan aparat penegak hukum setelah berkomentar tak pantas tentang Nabi Muhammad di facebook. Komentarnya yang dianggap menyinggung umat Islam itu kemudian dilaporkan ke Polres Lumajang dan langsung diproses serius.
MUI menjadi saksi ahli dalam sidang penghinaan nabi
MUI menjadi saksi ahli dalam sidang penghinaan nabi
Pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lumajang telah diminta menjadi saksi ahli dalam persidangan secara online di Kejaksaan Negeri Lumajang, Kamis (11/6/2020). Ketua dan Sekretaris MUI Lumajang, KH. Achmad Hanif SQ dan Sarwadi, SH., MH. hadir dalam persidangan tersebut.

Setelah persidangan itu, Sarwadi pun berharap masyarakat banyak belajar dalam kasus ini. Masyarakat diminta lebih bijak lagi ketika bersosial media. Apa yang akan ditulis atau diunggah harus diperhatikan, jangan sampai membuat kegaduhan.

“Masyarakat harus hati-kati agar pekara serupa tidak terjadi lagi,” ucapnya, Sabtu (13/6/2020).

Selain itu, Ia juga berharap kepada masyarakat, khususnya umat Islam untuk tidak lagi terpancing dan bereaksi berlebihan. Karena kasus tersebut sudah diproses secara hukum. “Dihimbau masyarakat tetap tenang, jangan terpancing. Biarkan proses persidangan berjalan,” ujarnya.

Dalam persidangan itu, saksi ahli dari MUI mendapat 18 pertanyaan dari majelis hakim dan 1 pertanyaan dari jaksa penuntut umum. Salahsatunya mengenai penerjemahan Alquran yang dilakukan seseorang.

“Ada metodologi khusus untuk memahami dan mempelajari Alquran. Tidak bisa serta merta seseorang menerjemahkan Alquran dengan seleranya sendiri,” kata KH. Ahmad Hanif.

Kemudian, ditanya bagaimana jika EW meminta maaf. Pihak MUI tidak bisa memutuskan hal itu. MUI juga tidak memiliki kewenangan untuk memberikan maaf kepada terdakwa. “Jadi tidak punya wewenang untuk menentukan itu,” tambah Sarwadi. (fit)