Dugaan Kekerasan dan Pemerkosaan Pelajar Klakah Diadukan ke Polres Lumajang

Lumajang, Motim - Seorang gadis diketahui berstatus sebagai pelajar di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Kecamatan Klakah berinisial DY, asal Desa Mlawang, Kecamatan Klakah, yang diduga menjadi korban kekerasan juga pemerkosaan akhirnya angkat bicara.
Dummy Hidayat saat menyerahkan laporan surat pengaduan
Dummy Hidayat saat menyerahkan laporan surat pengaduan
DY melalui kuasa hukumnya asal Kota Malang, Dummy Hidayat, SH kepada sejumlah media menuturkan, masalah yang menimpa DY sudah diadukan kepada Kapolres Lumajang atas dugaan kekerasan terhadap anak di bawah umur pada Jum'at (3/7/2020) kemarin.

“Diharapkan penyidik bisa bekerja secara obyektif, profesional dan transparan supaya dugaan perbuatan tindak pidana kekerasan terhadap DY terungkap dengan sebenar-benarnya. Apalagi DY masih tergolong anak di bawah umur,” ucapnya.

Saat ditanya bagaimana kejadian yang sebenarnya hingga DY ditemukan warga dalam kondisi tidak sadarkan diri di sekitar lokasi wisata Sumber Mrutu, Desa Pandansari, Kecamatan Kedungjajang, Dummy menuturkan sesuai pengakuan DY pada Senin (29/6/2029) sekira pukul 13.00 WIB, DY diajak teman perempuannya berinisial MRB untuk merayakan ulang tahun DY bersama 6 teman prianya, masing-masing berinisial SRL, HNF, NVL, IDR, FRS dan HDN bertemu di sekitar pasar hewan Desa Kebonan, Kecamatan Klakah.

“Disitu mereka minum anggur merah 1 botol,” katanya.

Tidak berselang lama mereka pergi menuju tempat karaoke untuk minum anggur merah 1 botol lagi. DY mengaku juga diberi pil yang diduga obat keras berbahaya, namun tidak ditelan. Entah bagaimana ceritanya, sekitar pukul 16.30 WIB DY ditemukan warga dalam kondisi tak sadarkan diri berada di sekitar lokasi wisata Sumber Mrutu, Desa Pandansari, Kecamatan Kedungjajang.

Beruntung korban mendapat pertolongan dari warga, selanjutnya DY dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Haryoto Lumajang untuk mendapatkan perawatan medis.

Menurut keterangan saksi warga, DY diseret oleh dua remaja apakah hendak dimandikan atau gimana, saksi mengaku tidak tahu. Melihat hal itu saksi menegur remaja itu kenapa diseret, remaja itu ngomong mabuk Pak.

“Mau diapakan DY dibawa ke lokasi wisata Sumber Mrutu kami tidak tahu. Jika mendengar keterangan saksi bahwa DY diseret kami kaget. Kenapa sampai diseret, biar penyidik yang mengungkapnya Mas,” terangnya.

Berdasarkan keterangan DY selaku korban dan keterangan saksi warga yang menolong patut diduga ada niat dengan sengaja secara bersama-sama untuk melakukan kekerasan terhadap DY.

Dummy berharap agar penyidik unit PPA mengembangkan perkara ini, apa sebenarnya niat dari teman-temannya itu mengajak merayakan ulang tahun korban dengan minum anggur merah juga ada yang membawa pil dan perbuatan apa saja yang dilakukan teman-temannya kepada DY saat tak sadarkan diri.

“Karena rentan terjadi perbuatan yang melanggar kesopanan yang bisa dikategorikan perbuatan cabul dan ini harus diungkap oleh penyidik,” ungkapnya.

Sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak bahwa anak harus mendapat hak-haknya atas yaitu terbebas dari kekerasan dari pihak manapun yang karena anak merupakan aset bangsa dan penerus cita-cita bangsa yang harus dijaga, dipelihara, dilindungi dan dipersiapkan sebaik mungkin agar kelak bisa menjadi penerus bangsa yang bisa diandalkan.

Dampak kekerasan yang dialami DY kata Dummy tentunya berpengaruh besar pada kondisi kesehatan korban baik fisik, psikologis dan sosial bagi diri DY. Bahwa DY selaku korban berhak mendapat perlindungan artinya segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi korban dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi dari siapapun.

“Andai tidak diketahui dan ditolong warga, bagaimana nasib DY. Saya percaya penyidik akan bekerja secara obyektif, profesional, proporsional, amanah dan transparan serta tentunya penuh tanggungjawab, sehingga terungkap yang sebenarnya,” pungkas Dummy. (cho)