Panitia Alih Lahan Klarifikasi ‘Tukar Guling’ Lahan Perhutani di Desa Burno

Ketua Panitia Alih Lahan Edi Santoso. (cho) 
Lumajang - Penolakan warga Dusun Karanganyar, Desa Burno, Kecamatan Senduro terkait rencana Perhutani ‘tukar guling’ atas rumah dan lahan yang sudah ditempati warga puluhan tahun, viral di sejumlah media mendapat respon Ketua Panitia Alih Lahan Edi Santoso yang juga sebagai Ketua LMDH Wono Lestari Burno.

Edi Santoso menegaskan, pihaknya sudah mengumpulkan warga untuk diberi pemahaman terkait rencana ini mulai dari RT 1 sampai RT 5. Namun waktu itu belum sampai ke pembahasan harga lahan pengganti.

“Belum sampai proses harga lahan pengganti,” kata Edi kepada sejumlah media di sekretariat LMDH Wono Lestari Kamis (16/7/2020).

Pihaknya sudah melakukan pendataan lahan tersebut. Ia pun menyebut, saat itu semua warga dari RT 1 sampai RT 5 sudah setuju. Bahkan sudah ke proses ke pengukuran lahan. Namun kemudian ada penolakan.

“Di situ sebagaian ada yang menolak. Keberatan tentang harga, padahal belum membahas masalah harga,” jelasnya.

Ia menjelaskan, warga yang menempati lahan di kawasan Perhutani itu harus menggantinya di tempat lain untuk kawasan hutan. “Masyarakat harus mengganti, namun nominal kita belum ditentukan,” ucapnya. Hal ini yang menurutnya kemudian menimbulkan masalah.

Sementara Penasehat Panitia Alih Lahan, Sutari yang diketahui sebagai mandor Perhutani juga menjabat sebagai Humas dan SDM LMDH Wono Lestari Burno menceritakan awal mula warga menempati di lahan tersebut, menurutnya sejak nenek moyang warga di sana bekerja di Perhutani sebelum 1945. Kemudian rumah dan lahan garapannya diwariskan ke anak-cucu.

"Iya benar sebelum kemerdekaan (1945)," ujarnya.

Sementara itu Administratur KPH Probolinggo, Imam Suyuti ketika dikonfirmasi Memo Timur melalui whatsapp, terkait rencana Perhutani melakukan tukar guling tersebut, masih belum memberikan keterangan.

“Maaf saya masih di lahan, nanti tak telpon,” ucapnya. Namun hingga berita ini dinaikkan, Imam Suyuti belum menghubungi.

Seperti diberitakan sebelummnya, masyarakat Dusun Karanganyar, Desa Burno, Kecamatan Senduro bersikap atas rencana Perum Perhutani untuk tukar guling atas rumah dan kebun yang sudah puluhan tahun ditempati dan dikelola oleh warga.

Rencana tukar guling diduga ada kaitan dengan rencana wisata alam Siti Sundari yang terletak di kawasan hutan Desa Burno, yang berdekatan dengan pemukiman warga sedikitnya ada 208 Kepala Keluarga (KK).

Seorang kakek bernama Prayit, yang mengaku sudah puluhan tahun bertempat tinggal di Dusun Karanganyar kepada sejumlah media dirinya bersama warga yang lain sudah berkomitmen untuk tetap menempati rumahnya dan menggarap lahannya sesuai wejangan nenek moyangnya, namun tidak akan menjualnya. (cho)