Masih Alami, Ranu Linggo Rekisi Bisa jadi Ekowisata

Lumajang, Motim - Ranu Linggo Rekisi atau yang juga dikenal masyarakat dengan sebutan Ranu Darungan, merupakan salah satu dari sejumlah danau yang ada di kaki Gunung Semeru. Ranu ini terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru wilayah selatan. Tepatnya di Dusun Darungan, Desa Pronojiwo, Kecamatan Pronojiwo.
Masih Alami, Ranu Linggo Rekisi Bisa jadi Ekowisata
Ranu Linggo Rekisi


Kondisi ranu tersebut saat ini sangatlah alami. Sehingga diharapkan nantinya menjadi ekowisata serta sebagai sarana edukasi dan penelitian bagi pelajar atau mahasiswa yang sedang melakukan kajian tentang lingkungan. Utamanya tentang bunga anggrek.

Nama Ranu Linggo Rekisi diambil dari nama tanaman yang mengelilingi perairan tersebut, yaitu tanaman Rekisi. Sementara, Linggo diambil dari bentuk ranu yang berkelok-kelok. Namun, ada penyebutan Ranu Darungan dari masyarakat sekitar, hal itu dikarenakan Ranu Linggo Rekisi berbatasan langsung dengan Dusun Darungan, Desa Pronojiwo.

Ranu Linggo Rekisi masuk dalam wilayah atau zona pemanfaatan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sehingga masyarakat diperbolehkan memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak ekosistem yang ada.

Saat ini, Ranu Darungan dikelola oleh Kelompok Tani Konservasi Ranu Linggo Rekisi sebagai lokasi pembudidayaan tanaman anggrek. Sebagai salah satu bunga endemik Semeru, ada 57 jenis anggrek yang dibudidayakan di area tersebut.

“Kita berkeinginan agar nantinya wilayah tersebut dijadikan sebagai salah satu ekowisata, serta sebagai sarana edukasi dan penelitian bagi pelajar atau mahasiswa,” kata salah satu anggota KTK Ranu Linggo Rekisi, Agus Hariyanto.

Selain untuk budidaya anggrek, Ranu Linggo Rekisi juga dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Ada 5 Dusun di Desa Pronojiwo yang memanfaatkan air ranu, yaitu Dusun Ranu, Dusun Tulungagungan, Dusun Darungan, Dusun Mulyoarjo, dan Dusun Kalibening. (fit)