Gagal Ekspor, Petani Tembakau Lumajang ‘Menjerit’

Gagal Ekspor, Petani Tembakau Lumajang ‘Menjerit’
Tanaman tembakau di Desa Tumpeng, Kecamatan Candipuro, Kab. Lumajang

Lumajang, Motim - Petani tembakau di Desa Tumpeng, Kecamatan Candipuro mengeluh di tengah pandemi Covid-19. Tembakaunya kini tak bisa lagi masuk pasar ekspor. Ditambah, biaya produksi semakin tinggi dan tidak berimbang dengan harga jual. Salahsatu penyebabnya harga pupuk yang mahal.

Deni Suwarno, salah satu petani tembakau jenis burley ini mengaku, dirinya sudah ikut kemitraan dengan suppiler Alliance One Indonesia (AOI). Ia setor tembakau burley ke supplier dalam bentuk krosok atau daun tembakau yang sudah dikeringkan.

Tembakau jenis ini biasanya diekspor ke luar negeri seperti China dan Australia. Namun karena pandemi, kegiatan ekspor ke luar negeri gagal. "Sekarang ini masih belum bisa kirim karena pandemi," katanya, Rabu (16/9/20), siang.

Menurutnya, biaya produksi tak bisa lagi ditekan. Karena upah untuk tenaga kerja juga tidak bisa lagi dikurangi "Masa upah tenaga kerja diturunkan, kan nggak mungkin Mas," keluhnya, saat ditemui media.

Deni sudah menggeluti usahanya ini mulai dari nol sejak tahun 1999. Awal mula dirinya menanam tembakau sekitar 3 ribu pohon. Dan sekarang sudah bisa tanam ratusan ribu pohon. Lahan yang dikelolahnya seluas 7 hektare. Setiap musim panen bisa menghasilkan sekitar 14 ton. Jumlah pekerjanya, jika kondisi normal bisa mencapai 30 orang.

Sementara Ketua Asosiasi Petani Tembakau, Dwi Wahyono menyampaikan, bahwa untuk petani tembakau jenis burley tercatat masih sedikit. Sedangkan tembakau yang banyak ditanam di Lumajang adalah tembakau Kasturi.

"Lumajang ini yang terkenal jenis Kasturinya Mas," katanya. Soal harga tembakau, kata dia, sudah berdasarkan kontrak. "Tataniaganya di Lumajang itu kemitraan Mas, jadi sesuai kontrak," tambahnya. (rus)