Isu Penghapusan Pelajaran Sejarah Sempat Bikin Resah Guru di Lumajang

Isu Penghapusan Pelajaran Sejarah Sempat Bikin Resah Guru di Lumajang
Candi Randuagung, salah satu situs di Lumajang

Lumajang, Motim - Isu penghapusan mata pelajaran sejarah pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat, sempat membuat resah sejumlah kalangan belakangan ini. Termasuk kalangan guru tentunya. Namun hal itu sudah diklarifikasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Salah satu guru mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 03 Lumajang, Drs. Joni, M.Pd sangat menyayangkan jika memang akan diberlakukan kebijakan penyederhanaan kurikulum tersebut. "Sangat disayangkan sekali, kalau mata pelajaran sejarah ini dijadikan pelajaran tambahan," katanya.

Pegiat sejarah ini juga mempertanyakan bilamana pelajaran sejarah benar-benar dijadikan opsi pelajaran tambahan. "Pertanyaannya, seberapa banyak peserta didik yang berminat terhadap pelajaran sejarah ini?" keluhnya.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Lumajang, Eko Romadhon menyampaikan melalui pesan WhatsApp, jika itu sampai terjadi, rusak negeri ini. Menghilangkan mata pelajaran sejarah dan tidak mengajarkan sejarah pada anak didik generasi penerus.

Sedangkan Kepala Cabang Dinas Pendidikan kabupaten Lumajang, Mahrus Syamsul belum berhasil dikonfirmasi, pesan WA belum dijawab dan panggilan telfon juga tidak diangkat. Saat Memo Timur mendatangi kantornya, kata satpam yang bertugas beliau sedang keluar kota.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim pun sudah memberikan klarifikasi melalui akun instagram resmi Kemendikbud. Ia menyampaikan, informasi tersebut tidak benar. "Tidak ada sama sekali regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum Nasional," ungkapnya di akun @kemdkbud.ri.

Nadiem menjelaskan jika isu tersebut keluar karena ada presentasi internal yang keluar ke masyarakat dengan salah satu permutasi penyederhanaan kurikulum. "Penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan hingga tahun 2022, di tahun 2021 kami akan melakukan berbagai prototiping (uji coba) di sekolah penggerak yang dipilih, dan bukan dalam skala nasional," jelasnya. (rus)