Karang Taruna Labruk Kidul Promosikan ‘Tempe Wedok’

Tempe Wedok dari Desa Labruk Kidul Kecamatan Sumbersuko. (*) 
Lumajang, Motim - Desa Labruk Kidul Kecamatan Sumbersuko memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Di desa tersebut, ada produsen tempe yang unik, yakni Tempe Wedok. Karang Taruna setempat, Bhakti Yudha Pertiwi pun gencar membantu promosikan tempe tersebut. 

Ketua Karang Taruna Bhakti Yudha Pertiwi, Wachyudi Rosad menjelaskan, kenapa dinamakan Tempe Wedok, karena tempe itu dibungkus menggunakan pelepah pisang. Cara bungkusnya seperti seorang perempuan memakai jarik. Kemudian diikat menggunakan tali dari pelepah pisang juga.

“Ibaratnya seperti perempuan memakai jarik dan diikat pakai udet (selendang). Itulah kenapa namanya Tempe Wedok, atau perempuan,” katanya Senin (28/9).

Ia menegaskan, keunggulan Tempe Wedok, adalah bahan yang digunakan murni kedelai tanpa ada campuran apapun. “Tempe wedok juga tidak menggunakan plastik dan 100 persen menggunakan bahan alam,” ungkapnya.

Menurutnya, upaya untuk mengenalkan Tempe Wedok bukan tanpa kendala. Saat ini jumlah pengrajin tempe tersebut hanya menyisakan dua orang perempuan yang sudah memasuki usia senja.

Keduanya adalah Khasanah (70) dan Bawon (60) tahun. Atas kondisi inilah, para pemuda karang taruna yang juga tergabung dalam Heppiii Community Lumajang, sudah merancang berbagai pelatihan pembuatan tempe itu agar ada penerusnya.

“Sayang sekali kalau produk dengan kearifan lokal, ramah lingkungan, dan bisa meningkatkan ekonomi warga desa ini punah karena gak ada penerusnya. Kami akan terus berupaya mempromosikan dan akan mengusahakan agar ada penerusnya,” ungkapnya.

Selama ini tempe itu dijual langsung ke pasar oleh pengrajin. Tempe Wedok ini harganya juga lebih terjangkau. Hanya dibanderol dengan harga Rp 3 ribu per bungkus, 1 bungkus isinya 10 buah.

“Soal rasa, Tempe Wedok dijamin lebih gurih dibanding tempe yang dibungkus dengan plastik seperti yang beredar di pasaran,” kata Wachyudi Rosad.

Ia menambahkan, produksi tempe tersebut selama ini sudah mampu menopang ekonomi warga desa. Hanya saja sebelumnya, pemasaran Tempe Wedok belum maksimal karena sebagian besar masih dijual di desa tersebut.

Promosi pun diantaranya dilakukan melalui media sosial. “Selama ini promosi yang dilakukan di media sosial cukup efektif, terbukti ada pesanan dari luar Lumajang, seperti Surabaya bahkan Sulawesi,” pungkasnya.

Pembina Heppiii Community Lumajang, Miftachul Arif mengatakan. pihaknya akan terus berupaya agar produk lokal Desa Labruk Kidul ini tetap lestari. Terlebih produksi Tempe Wedok jika dikelola dengan maksimal juga bisa meningkatkan potensi dan menguatkan ekonomi warga desa.

“Mudah-mudahan Tempe Wedok makin berkembang dan akan ada banyak penerusnya, sehingga warga desa bisa semakin produktif dan tetap menjaga kearifan lokal yang ada,” ungkapnya. (fit)