Pernikahan Anak Bisa Termasuk Eksploitasi

Pernikahan Anak Bisa Termasuk Eksploitasi
Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak, ir. Aisyah

Lumajang, Motim - Eksploitasi anak dapat disimpulkan secara umum sebagai pemanfaatan atau pendayagunaan anak untuk mereka yang melakukannya. Bisa orang tua atau pihak lain.

Apapun yang dilakukan oleh anak dan bukan atas dasar kemauan dari anak yang bersangkutan, bisa dikategorikan sebagai eksploitasi anak. Pernikahan anak yang dilatarbelakangi oleh kemauan orang tua sebagai pelimpahan tanggung jawab kepada orang lain, ini termasuk eksploitasi anak.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, KB dan Perlindungan Perempuan Kabupaten Lumajang, dr. Rosyidah melalui Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak, ir. Aisyah menyampaikan bahwa pelimpahan tanggungjawab dengan cara menikahkan anak usia 18 tahun kurang satu hari, hal itu termasuk kategori eksploitasi anak.

"Tapi kalau dalam kasus hamil di luar nikah lalu dinikahkan, itu tidak termasuk," jelasnya, saat ditemui Memo Timur di kantornya, Rabu (23/9/20), pagi.

Diketaui bahwa dalam semester awal pada tahun 2020, tercatat di Pengadilan Agama sebanyak 631 pemohon dispensasi nikah hingga akhir bulan Juli. Sedangkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik di situs resmi Pemkab Lumajang, jumlah pernikahan di usia kurang dari 20 tahun sebanyak 475.

Jumlah pernikahan usia muda tahun ini melonjak tajam dan didominasi Kecamatan Pasrujambe sebanyak 45 atau 29,03 persen. Posisi kedua diduduki Kecamatan Lumajang sebanyak 43 atau 9,09 persen dan posisi ke tiga ditempati Kecamatan Jatiroto dengan jumlah 38 atau sebanyak 25 persen.

Aisyah juga menambahkan, eksploitasi anak itu banyak kategorinya juga indikatornya. Seperti eksploitasi seksual, mempekerjakan anak yang tidak sesuai aturan, dan eksploitasi fisik atau pun sumberdaya anak.

"Menyuruh anak untuk mengikuti perlombaan dan bukan atas kemauan anak, itu juga termasuk," ungkapnya.(rus)