Rangkaian Upacara Karo Tengger di Ranupani Ditutup dengan Ritual Nyadran

Ritual Nyadran. (*) 

Lumajang, Motim - Rangkaian upacara Hari Raya Karo di Desa Ranupani ditutup dengan Ritual Nyadran. Rangkaian upacara tersebut dilaksanakan selama 7 hari. Dengan membawa bunga dan sesajen, masyarakat Suku Tengger Desa Ranupani berbondong-bondong mendatangi pemakaman umum yang ada di desa setempat, Jumat (18/9).

Yang menarik dalam tradisi ini, masyarakat Tengger menggunakan pakaian adat saat berziarah. Iring-iringan masyarakat menuju makam beserta tetabuhan alat musik khas Tengger juga mengiringi pelaksanaan tradisi ziarah kubur Suku Tengger di Desa Ranupani.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Badan Pengawas Desa Ranupani, Tuangkat menyampaikan, Ritual Nyadran merupakan acara terakhir atau sebagai ritual penutup Hari Raya Karo sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

"Semua masyarakat Tengger yang ada di Ranupani akan pergi ke makam untuk mengikuti Ritual Nyadran, sebelum ziarah berlangsung ritual ini diawali dengan adanya japa mantra dari Romo Dukun, baru setelah itu masyarakat boleh melaksanakan ziarah ke makam para leluhur," ungkapnya.

Ritual Nyadran merupakan tradisi atau adat dari Suku Tengger yang digelar setelah tujuh hari dari Upacara Karo, dengan diikuti oleh seluruh masyarakat Tengger yang ada di Ranupani, karena itu ritual tersebut tidak membedakan agama satu dengan yang lainnya.

"Kalau keyakinan masing-masing kita tidak bisa menuntut keyakinan orang, tetapi yang namanya adat harus disengkuyung secara bersama-sama, baik muslim atau non muslim. Disini paling kuat kearifan lokalnya, jadi tidak ada namanya adat disangkut pautkan dengan agama," tambahnya. (fit)