Pelanggar Prokes Tak Mau Bayar Denda, Sebut Pemerintah Zalim

Pelanggar Prokes Tak Mau Bayar Denda, Sebut Pemerintah Zalim
Nurus shobah saat bersitegang dengan pelanggar lain

Lumajang, Motim - Sidang Operasi Yustisi yang digelar di Gedung Sujono sempat gaduh, Senin (5/10). Betapa tidak, pasangan suami istri (pasutri) asal Pasuruan tetap keukeuh merasa tidak bersalah, meskipun kedapatan tidak memakai masker di dalam mobil. Mereka pun tidak mau bayar denda.

Seorang perempuan yang mengaku berprofesi sebagai guru, bernama Faridatul Makhya, di depan hakim saat sidang menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya tidaklah melanggar aturan. Sebab, menurutnya di dalam mobil merupakan hak privasi. Sehingga ia tidak perlu membayar denda meski hanya 25 ribu karena tidak pakai masker.

Sepanjang sidang berlangsung, perempuan tersebut tetap mempertahankan pendapatnya sekalipun hakim sudah menjelaskan panjang lebar. Namun, apa yang disampaikan oleh hakim tidak diindahkannya.

Disamping itu, suami yang ikut bersamanya bernama Nurus Shoba, juga sedang menunggu panggilan hakim untuk sidang, terlihat merekam proses sidang istrinya yang bersitegang, sambil merekam kondisi di dalam Gedung Sujono.

Setelah hakim menegur perbuatan suami terdakwa, petugas dari kepolisian mendatanginya dan meminta agar rekaman video tersebut dihapus.

Ketika hakim memanggil pria berkopyah putih, berbaju taqwa dan mengenakan sarung kotak-kotak yang merupakan suami dari terdakwa sebelumnya, juga diberi putusan sama. Namun keduanya tidak mau bayar denda yang dijatuhkan kepadanya.

Saat hendak meninggalkan persidangan, pria tersebut mengucapkan "Pemerintah Zalim" berkali-kali, sehingga menarik perhatian awak media yang hadir saat itu.

Pada saat awak media mewawancarai pihak perempuan, ia menyampaikan bahwa dirinya menuntut keadilan dan akan mendatangi kejaksaan untuk banding. "Bukan masalah uang 25 ribu atau 100 ribu, saya tidak bersalah kok," ucapnya keukeuh.

Seketika itu pihak pria mengatakan bahwa ini merupakan pekerjaan zalim. "Ini pekerjaan zalim mas, ngerti a sampean," ucapnya dengan lantang.

Menurutnya, lebih baik memberikan uang 25 ribu kepada anak yatim daripada buat bayar denda karena bisa dapat pahala. Ia menjelaskan, zalimnya pemerintah karena merekayasa peraturan, dan tidak paham agama. "Aturannya mana! Suruh ngaji lagi hakim!" jelasnya lantang.

"Asli Pasuruan saya, tinggal di Malang. Dari Habib Alwi saya ini," akunya kepada media. (cw7)