Warga Tegalrandu Olah Pelepah Pinang jadi Bungkus Makanan

Warga Tegalrandu Olah Pelepah Pinang jadi Bungkus Makanan
Irma Roudhotul Jannah mengolah pelepah pinang

Lumajang, Motim - Irma Roudhotul Jannah, warga Dusun Gunung Lawang RT 05 RW 03, Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah memanfaatkan pelepah pinang untuk bungkus makanan. Tentunya pelepah itu bisa sebagai pengganti kertas minyak atau plastik. Apalagi pelepah pinang dipercaya memiliki kandungan zat yang bisa menetralisir kandungan jahat pada makanan.

Olahan pelepah pinang yang dikelolahnya pun selama ini dikirim ke luar daerah seperti Jember, Gresik dan Bondowoso. Karena menurutnya, di Lumajang belum ada yang mengolah dan menggunakan pelepah pinang untuk membungkus makanan.

Ia menjelaskan proses pengolahan pelepah pinang tersebut. Pelepah yang ia kumpulkan, kemudian ia kupas dengan menggunakan pisau dapur secara manual. Lalu ia jemur kurang lebih 3 hari, hingga kering. Selanjutnya akan dilakukan penyortiran dengan memilah lapisan yang bersih dan kondisinya bagus.

Setelah proses penjemuran selesai, selanjutnya dipotong dengan ukuran 13x8 cm dan siap untuk disetor sebagai bahan setengah jadi. Sisa limbah pelepah pinang tersebut usai dikupas, bisa dimanfaatkan untuk anyaman tas dan sisanya untuk kayu bakar.

Usaha yang terbilang unik ini ditekuninya sejak 3 tahun yang lalu. Irma yang biasa disapa Iir ini, memiliki pekerja atau buruh yang bertugas mengambil pelepah pinang yang sudah menguning di atas pohon, kemudian ia beli seharga 200 rupiah per lanjar (satuan pelepah). Sedangkan yang sudah dikupas ia beli seharga 350 rupiah.

Setiap hari dirinya bisa mendapatkan puluhan lanjar dari 70 orang yang mencari pelepah pinang. "Tukang kupasnya ada 7 orang, kebanyakan janda Mas," katanya.

Iir mengaku jika pelepah pinang yang ia setorkan merupakan bahan setengah jadi, selanjutnya akan diolah seperti piring sekali pakai atau untuk bungkus makanan. "Ini nanti dibuat piring sekali pakai, dengan cara dijahit Mas. Buat bungkus dodol juga bisa," jelasnya.

Dirinya menambahkan, untuk sekali setor sekitar 4000 lembar yang sudah dipotong. "Tergantung pesanan, sebulan bisa 3-4 kali setor. Pernah ada pesanan sampai 10.000 lembar lebih," kata Irma.

"Para pengepul yang ngambil ke sini, jadi tidak ribet," ucapnya.

Dalam sebulan, ia bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar 3 juta, namun semenjak ada pandemi covid 19 pendapatannya merosot jauh.

Terkait modal, selama ini dirinya menggunakan modal dari kantong pribadi. Karena dari pemerintah, baik tingkat desa maupun kecamatan belum melirik usahanya.

"Belum pernah ada bantuan. Kalau modal masih pakai uang pribadi. Jika sekedar berkunjung yaa ada, Bu RT juga ada yang kerja di sini," pungkasnya. (cw7)