Dinilai Tidak Adil! Kegiatan Belajar Mengajar Dibatasi, Tempat Keramaian Jalan Terus

Dinilai Tidak Adil! Kegiatan Belajar Mengajar Dibatasi, Tempat Keramaian Jalan Terus
Program Sinau Bareng sebelum dihentikan
Lumajang, Motim - Progam Sinau Bareng di sekolah yang baru beberapa hari diluncurkan sudah harus ditunda pelaksanaannya. Alasannya, angka kasus Covid-19 di Lumajang terus meningkat dan Lumajang masuk Zona Merah.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Lumajang, Eko Romadhon menuturkan jika kebijakan yang diambil oleh Bupati Lumajang ini memang sudah tepat. “Jika bupati tidak merespon dengan cepat dan tepat, dikhawatirkan akan jadi boomerang kepada beliau,” ucapnya, Selasa (17/11/20).

Sedangkan di lain pihak, kegiatan masyarakat di tempat-tempat keramaian, seperti di tempat wisata, hajatan, tempat hiburan dan lain-lain terkesan aman-aman saja. Sehingga menurutnya, para guru merasa jika kondisi tersebut sangat tidak adil.

“Kenapa proses belajar mengajar harus diperlakukan seperti ini, sedangkan kegiatan lain tetap dilos bebas seperti itu. Jika proses belajar mengajar dibatasi, harusnya kegiatan lain juga dibatasi,” ucap Ketua Dewan Pendidikan menyampaikan keluhan para guru.

Karena bupati membranding kebijakannya dengan judul yang terlalu spesifik “Sinau Bareng” masih kata Eko, sehingga masyarakat menganggap kebijakan tersebut hanya diperuntukkan anak sekolah saja. Ketika program tersebut ditunda atau dihentikan, maka itu berlaku bagi lingkungan pendidikan.

“Harusnya murid tetap bersekolah dengan diberi kesempatan belajar 1,5 jam dan maksimal 2 jam. Itu pun harus tetap dibatasi. Bisa seminggu 2-3 kali pertemuan, dan guru tetap masuk setiap hari. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” harapnya.

Menurutnya, jika anak-anak di rumah terus bisa setres semua. Anaknya setres, orang tuanya setres. “Anak itu butuh sosialisasi dengan teman dan lingkungan agar tidak jenuh,” jelasnya.

Ia menambahkan, kalau anak-anak dilepas atau dibiarkan seperti ini, dari mana anak mendapat pendidikan akhlak dan budi pekerti? Kalau ilmu pengetahuan masih bisa lah mencari di internet. Tapi kalau budi pekerti dan akhlak harus dinarasikan oleh guru agar anak-anak paham.

“Lebih baik tetap dilaksanakan dengan menjaga protokol kesehatan dan jangan terlalu lama, guru tiap hari masuk dan muridnya diatur dan dibagi jamnya,” tambahnya lagi.

Ia juga mengaku kurang setuju dengan kegiatan guru sambang, apalagi banyak guru-guru yang mengajar anak didiknya di emperan toko, di mushola, di pinggir sungai dan di posyandu. “Memang boleh belajar di mana pun tempatnya. Tapi kesannya kok kurang etis, melas. Harapan Saya, siswa tetap bisa berkomunikasi dengan gurunya,” pungkasnya. (cw7)