Hari Pohon Sedunia: Perlu Aksi Nyata untuk Konservasi

Hari Pohon Sedunia: Perlu Aksi Nyata untuk Konservasi
Diskusi pelestarian kawasan pesisir

Lumajang, Motim - Kelompok pecinta alam di Lumajang dan luar daerah memperingati Hari Pohon Sedunia di Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian. Kegiatan digelar 2 hari, 21-22 November 2020 dengan agenda diskusi pelestarian kawasan pesisir dan menanam pohon.

Dalam diskusi pelestarian kawasan pesisir, Koordinator Sahabat Alam Indonesia, Andik Saifudin menegaskan, perlu aksi nyata dalam kegiatan konservasi. Ia pun mengapresiasi semangat kalangan pemuda-pemudi Lumajang yang turut serta aktif dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, saat ini tidak banyak pemuda-pemudi di Indonesia yang peduli dengan isu lingkungan dan sosial kemasyarakatan. Dia menyebutkan semangatnya seringkali setengah-setengah.

Andik menyebutkan mereka hanya aktif dalam kegiatan yang bersifat sport dan rekreasional seperti naik gunung atau menyelam di laut. Sedangkan ketika diajak pengabdian ke masyarakat banyak alasan dan enggan berpartisipasi.

"Ayo kita ke gunung, ke pantai, ayo nyelam. Yang datang gruduk. Tapi, ketika diajak pengabdian, yang datang cuma 3-4 orang. Malah kadang tidak ada. Makanya, saya bersyukur bisa ketemu dengan teman-teman yang satu frekuensi seperti ini," katanya.

Lebih dari itu, dia menyampaikan juga diperlukan aksi nyata dengan turun ke lapangan dan berbaur dengan masyarakat untuk mengetahui cerita, masalah serta ilmunya. Dengan tujuan agar tidak salah dalam melakukan kegiatan konservasi.

"Ketika sekedar menuntut saja dan mengatakan Selamatkan hutan kita, laut kita, bumi dan air. Tapi, tidak pernah terjun ke masyarakat. Itu akan percuma. Dia bisa dikatakan hanya aktivis level sosial media dan cafe saja," ujarnya.

Menurut Andik, tujuan turun ke lapangan dalam kegiatan konservasi untuk mengetahui cerita, masalah, ilmu serta mendapatkan pengalaman dan jaringan. Sehingga, berangkat dari itulah bisa mengetahui situasi dan kondisi sebenarnya di lapangan untuk bisa memberikan solusi jika seandainya ada suatu masalah.

"Cerita, ilmu, pengalaman dan jaringan itu tidak bisa dititipkan ke orang lain. Harus kita sendiri. Misalnya, cara menyelesaikan konflik seperti apa. Kalau kita tidak pernah terjun ke masyarakat. Kita tidak akan tahu caranya," terangnya.

Sementara, Koordinator Laskar Hijau A’ak Abdullah Al-Kudus menyampaikan kegiatan Peringatan Hari Pohon Sedunia sengaja digelar di Desa Selok Awar-awar. Hal tersebut untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa mendiang Salim Kancil dalam usahanya merawat dan menjaga kelestarian alam.

Dia menyampaikan kegiatan konservasi ini diikuti beberapa organisasi masyarakat seperti Laskar Hijau, Gusdurian, organisasi pecinta alam serta beberapa pihak lain di Kabupaten Lumajang yang turut serta menginisiasi dan mensukseskan kegiatan tersebut.

"Alhamdulillah, kegiatan kali ini. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang juga terlibat dan mendukung. Mungkin ini baru pertama kali kita berkolaborasi," katanya.

Oleh karena itu, A’ak berharap kegiatan-kegiatan serupa kedepannya bisa tetap berkolaborasi dengan tujuan utama menghijaukan tempat-tempat lain di Kabupaten Lumajang.

"Semoga, ketika kita terus semangat melestarikan lingkungan, virus corona segera sirna di muka bumi ini. Khususnya di Lumajang yang sudah ditetapkan sebagai zona merah di Jawa Timur," harapnya. (fit)