Jamur Janggel dari Desa Karanganom Banyak Diminati

Jamur Janggel dari Desa Karanganom Banyak Diminati
Produksi jamur janggel sudah siap panen
Lumajang, Motim - Bonggol atau janggel jagung yang biasanya hanya dijadikan kayu bakar, kini bisa dimanfaatkan untuk budidaya jamur. Hasil budidayanya pun dikenal dengan sebutan jamur janggel.

Usaha budidaya jamur janggel yang dikelolah oleh Karangtaruna Kartika Bangkit Desa Karanganom, Kecamatan Pasrujambe ini sangat prospek sekali. Selain hanya membutuhkan modal sedikit, pangsa pasar cukup tinggi.

"Alkhamdulillah Mas, kita sudah kewalahan untuk bisa memenuhi permintaan pasar, kita juga baru saja memulai usaha ini," tutur Hendro Beta Irawan, selaku Ketua Karangtaruna saat dihubungi, Minggu (29/11/20).

Hendro mengaku jika kelompoknya tidak perlu repot-repot memasarkan hasil budidaya jamur janggel, sebab selalu habis di tempat setelah panen. "Seringnya habis di tempat, tidak sampai dititipkan ke mlijo-mlijo," katanya.

Kelompoknya memiliki gagasan tersebut dengan mempertimbangkan potensi yang ada di lingkungan. Karena di desanya banyak sekali bonggol jagung yang tidak dimanfaatkan, sehingga muncul ide untuk memanfaatkan bonggol tersebut.

"Kita beli janggel ini dari warga seharga 20 ribu dapat 5 zak," katanya lagi.

Selain bonggol jagung yang sudah tua, ia juga menambahkan katul (dedak), ragi tape dan mes sebagai pupuknya. Setelah menebar janggel, butuh waktu sekitar 3 minggu baru bisa produksi jamur.

Menurutnya, menggunakan media janggel tersebut lebih lama jangka produksinya daripada jamur merang yang menggunakan jerami. "Rasa jamurnya ini mirip dengan jamur merang, medianya juga lebih tahan lama," ucapnya.

Setiap panen, ia mengaku bisa menghasilkan jamur sekitar 7-8 kilogram per hari. Jamur tersebut ia jual dalam kemasan plastik dengan harga 5 ribu per Ons nya.

Kata Hendro, dirinya memulai usaha budidaya jamur janggel ini sekitar bulan Mei, dan masih tahap perintisan. Terkait modal, ia mengaku patungan dengan teman-temannya. Setelah jalan, kelompoknya ini mendapat dukungan dari kepala Desanya.

"Masih babat alas, sambil belajar. Kekurangan cepat rusak ketika setelah panen langsung dimasukkan plastik. Tapi klo diangin-anginkan lebih dulu bisa kuat," pungkasnya. (cw7)