Museum Lumajang Sepi Pengunjung, Pemuda Gagas ‘Museum Wengi’

Museum Lumajang Sepi Pengunjung, Pemuda Gagas ‘Museum Wengi’
Pengunjung jalani protokol kesehatan sebelum masuk Museum Lumajang

Lumajang, Motim - Komunitas pemuda inisiasi program Museum Wengi. Kegiatan tersebut rencananya dilaksanakan selama satu bulan, mulai 4 November hingga 4 Desember 2020 yang bertempat di Museum Daerah Kabupaten Lumajang.

Tenaga Teknis Arkeologi Museum Daerah Kabupaten Lumajang, Aries Purwantini menuturkan, Museum Wengi sudah menjadi agenda kegiatannya setahun yang lalu. Namun baru bisa dilaksanakan bulan November ini. “Sebenarnya ini sudah diagendakan tahun lalu, tapi baru sekarang bisa terrealisasi,” katanya, Kamis (5/11/20).

Kegiatan tersebut merupakan upaya pihaknya untuk meningkatkan kunjungan ke Museum Lumajang yang berlokasi di Kawasan Wonorejo Terpadu. Karena selama pandemi, kunjungan ke Museum Lumajang sangat merosot drastis.

“Kita di sini berupaya mewadahi inisiatif juga apresiasi dari para pemuda. Sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa museum bukan hanya menjadi kunjungan untuk benda-benda mati. Namun juga menjadi tempat inspirasi bagi anak-anak muda dan masyarakat Lumajang, bukan karena sejarahnya tetapi mereka dapat berinteraksi dengan museum,” jelasnya.

Museum Wengi diselenggarakan setiap hari Rabu, Kamis dan Jum’at sekitar pukul 18.00 WIB sampai selesai. Dalam kegiatan tersebut, agendanya bervariasi setiap minggunya. “Tadi malam kegiatannya adalah belajar tentang aksara jawa. Kamis dan Jum’at akan diisi perfom dari para pemuda,” jelasnya lagi.

Materi aksara jawa ini diisi oleh Maghfiro yang merupakan alumni Filologi (berhubungan dengan naskah kuno). Aries mengatakan, menurut Maghfiro belajar aksara jawa ini bukan melulu tentang prasasti saja namun bisa diaplikasikan ke berbagai hal. “Misalnya menulis nama jalan dengan aksara jawa, juga bisa untuk menamai suatu produk seperti makanan maupun handcraft,” ucapnya.

Setiap minggunya akan diisi dengan materi lain, misalnya minggu kedua belajar tentang sejarah Lumajang dengan menghadirkan narasumber-narasumber yang berbeda. “Dalam kegiatan tersebut lebih memfokuskan ke kegiatan diskusi anak-anak muda. Jadi kita diskusi atau jagongan dengan kelompok pemuda tapi dengan materi tertentu,” katanya.

Sementara komunitas yang ikut berpartisipasi masih 3 komunitas. Seperti Komunitas Mahasiswa Lumajang, PMII, Sahabat Museum. “Kita mempersilahkan bagi komunitas-komunitas yang ingin berkegiatan di Museum Lumajang. Di sini kita bisa jagongan atau diskusi-diskusi,” pungkasnya.(cw7)