Peminta Sumbangan dari Luar Lumajang Banyak Berdatangan

Peminta Sumbangan dari Luar Lumajang Banyak Berdatangan
Peminta sumbangan dari luar Lumajang di Perempatan Toga
Lumajang, Motim - Akhir-akhir ini banyak ditemukan peminta sumbangan di Kabupaten Lumajang yang datang dari luar daerah. Selain kerap ditemui meminta sumbangan dari rumah ke rumah, mereka juga sering ditemui di sejumlah titik persimpangan lampu lalu lintas.

Salahsatu peminta sumbangan yang ditemui Memo Timur, mengaku dari Kabupaten Jember. Ia datang ke Lumajang karena dimintai tolong oleh pengurus pondok pesantrennya untuk mengumpulkan sumbangan untuk pembangunan pondok pesantren.

"Kami diantar oleh pengurus Ponpes naik mobil, jam 10 siang dijemput," ucapnya.

Ia menyampaikan jika setiap bulan dirinya mendapat tugas untuk mengumpulkan sumbangan dari pengguna jalan, dengan membawa kotak kardus bertuliskan bantuan pembangunan ponpesnya.

Lebih jauh ia menceritakan jika dirinya bersama 7 orang temannya tidak hanya dikirim ke Lumajang saja, melainkan ke Probolinggo, Pasuruan hingga Malang. "Dari sini kita nginap di rumah pengurus, besoknya ke Probolinggo, kadang ke Pasuruan atau Malang. Seminggu lagi baru gantian teman yang lain," jelasnya.

Iwan, salah satu pedagang di sekitar jalan Gajah Mada (Toga), Kecamatan Kota Lumajang mengeluhkan keberadaan peminta sumbangan yang beroperasi setiap hari di perempatan lampu merah toga.

Ia melihat setiap harinya selalu ada yang meminta sumbangan di lampu merah toga. "Dari jam 6 pagi sudah ada di situ. Yang sering terlihat itu anak prempuan berjilbab, kayak anak pondok. Kadang anak laki-laki berkopyah dan bersarung Mas," katanya.

Ia menduga jika mereka masih usia sekolah. Bagaimana jika orang tuanya tahu kalau anaknya yang mondok ternyata disuruh minta sumbangan ke kota lain. "Kalau orang tuanya tau pasti marah jika anaknya disuruh seperti itu, bukannya belajar malah minta-minta," ucap Iwan.

Penjual pisang cokelat yang berjualan tak jauh dari perempatan toga juga sempat menghubungi Dinas terkait dan mempertanyakan keberadaan santri yang meminta sumbangan, namun tidak ada respon.

"Lumajang kan masuk zona merah, lah ini santri dari luar kota kok malah kluyuran minta sumbangan. Kok tega gurunya itu. Sudah saya hubungi Satpol PP tapi ndak ada respon," keluhnya. (cw7)