Korban Bencana Semeru Mendapat Trauma Healing dari Polda Jatim

Korban Bencana Semeru Mendapat Trauma Healing dari Polda Jatim
Lumajang, Motim - Warga masyarakat korban bencana Gunung Semeru mendapat trauma healing dari jajaran Polda Jawa Timur. Hal ini dilakukan untuk memulihkan kondisi psikologis masyarakat pasca Semeru erupsi.

Trauma healing dilakukan selama 2 hari, pada 9-10 Desember 2020. Kegiatan tersebut dilakukan di berbagai titik, sasarannya para pengungsi, anak-anak, dan balita.

Lokasi yang dituju diantaranya Posko Bencana Alam erupsi Gunung Semeru Lapangan Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, SDN Supiturang 04 Pronojiwo, Balai Desa Supiturang, Polsek Candipuro, Pos Pemantauan Gunung Api Gunung Sawur Candipuro, rumah warga sekitar Pos Pemantauan Gunung Api Gunung Sawur Candipuro, serta Hutan Bambu Candipuro.

Kegiatan trauma healing itu dipimpin oleh Kabag Psikologi Biro SDM Polda Jatim AKBP Diah Riantanty, S.Psi. melalui Paur Subbag Humas Polres Lumajang, Ipda Andreas Shinta PW, SH. menurutnya, peristiwa bencana alam memang dapat mengganggu kondisi psikologis seseorang karena mengancam keselamatan jiwa.
Korban Bencana Semeru Mendapat Trauma Healing dari Polda Jatim

"Ketidakseimbangan kondisi psikologis tersebut dapat menimbulkan gejala-gejala seperti syok, mimpi buruk, sulit konsentrasi, cemas, waspada secara berlebihan, dan perasaan tidak aman," katanya.

Lanjutnya, korban bencana yang dalam istilah psikologi disebut sebagi penyintas, juga bisa mengalami kesedihan mendalam, merasa hampa serta tak berdaya, dan enggan bergaul.

"Sehingga penanganan dampak psikologis terhadap penyintas dalam konteks bencana alam ditempuh dengan cara memberikan dukungan psikososial sebagai langkah untuk mencegah dan pemulihan trauma psikologis bila hal tersebut muncul," katanya.

Ia menjelaskan, ada kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam penanganan dampak psikologis bencana. Kelompok tersebut adalah lansia, anak-anak, perempuan, dan penyandang disabilitas.

"Anak-anak membutuhkan perhatian lebih karena mereka belum memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan perasaan. Begitu juga lansia, perempuan dan disabilitas, mereka memiliki kerakteristik dan kebutuhan khusus sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih," pungkasnya. (fit/cho)