Anjay Diantara Pujian dan Umpatan

Anjay Diantara Pujian dan Umpatan
Oleh: Inka Krisma Melati
Universitas Muhammadiyah Malang
Pendidikan Bahasa Indonesia

Secara etimologi kata Anjay berasal dari bentukan kata anjing yang diderivasi morfologis untuk fungsi penghalusan. Anjay berasal dari bahasa gaul yang biasa disebut sebagai bahasa prokem. Bahasa prokem adalah bahasa yang digemari oleh kalangan remaja tertentu. Kata anjing selain merujuk pada hewan juga dapat dimaknai sebagai ucapan yang kasar. Kata anjing yang terkesan kasar jika diucapkan secara langsung pada lawan bicara, sehingga diplesetkan menjadi Anjay yang terdengar lebih halus.

Penggunaan kata Anjay tidak selamanya merajuk pada ungkapan yang kasar, kata Anjay digunakan untuk menunjukan sesuatu yang keren (sesuai konteks penggunaan kalimatnya). Selain kata Anjay, kata Anjing juga diplesetkan menjadi kata-kata lainnya seperti Anjir, njir, njer, dan njay. Penggunaan kata Anjay dikatakan kasar jika seseorang sedang mengumpat. Selain itu, kata Anjay memang kurang pantas jika digunakan pada sebuah forum formal.

Kontroversi tentang penggunaan kata Anjay ini memang sempat ramai diperbincangan mulai dari kalangan remaja, mahasiswa, selebritis dan para ahli ilmu bahasa. Penggunaan kata Anjay menjadi lebih heboh saat Komnas Perlindungan Anak meminta penggunaan kata Anjay diberhentikan dan jika dipakai akan berpotensi dipidana. Komnas Perlindungan Anak menilai kata Anjay merupakan kekerasan verbal dan dapat dilaporkan sebagai tindak pidana sesuai UU RI No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Hal tersebut melahirkan pendapat dari dua kubu yang berbeda, di satu sisi penggunaan kata Anjay ini hanyalah sebuah bahasa gaul untuk memuji teman satu geng, komunitas dan tongkrongan. Penggunaannya tidak mengandung unsur bullying atau kekerasan verbal dan istilah tersebut tidak menimbulkan ketersinggungan dan sakit hati. Namun, di sisi lain penggunaan kata Anjay ini terkesan kasar karena berasal dari kata anjing.

Dalam konteks ini, penggunaan kata Anjay mengandung unsur kekerasan dan merendahkan martabat seseorang, meski digunakan dalam bentuk candaan penggunaan kata Anjay dapat dianggap melanggar pidana. Kebebasan berbahasa baik secara lisan maupun tulisan sangat ditentukan oleh prinsip pragmatik sebuah bahasa. Hal ini harus dipahami bahwa bahasa bukan sebagai sebuah aturan yang dapat mengikat setiap pemakaiannya, tetapi lebih menitik beratkan bahasa sebagai alat komunikasi bagi individu.

Munculnya kata Anjay dalam bahasa ini merupakan buah dari kebebasan berekspresi dan berbahasa. Semua orang termasuk generasi milenial berhak menciptakan kata-kata tertentu sesuai dengan komunitasnya dan tidak merugikan orang lain.

Kata Anjay dulunya bermakna kasar seperti kata Jancuk, tetapi sekarang mengalami proses ameliorasi yang diikuti oleh asal-usul munculnya kata Anjay itu sendiri. Sebenarnya penggunaan kata Anjay bisa multi-makna tidak diperbolehkan atau dilarang dalam penggunaan sehari-hari, maka ada berapa banyak kosa kata dalam perkembangan bahasa Indonesia yang juga harus dilarang. Nilai dan norma dalam sosial budaya juga harus diperhatikan, misalnya kata ini dipakai dalam suasana apa, kepada siapa, dan dengan tujuan apa.

Penggunaan kata Anjay sebenarnya tidak memiliki dampak yang buruk jika digunakan dalam konteks yang benar. Konteks yang benar yaitu digunakan sebagai ungkapan pujian, tidak digunakan dalam keadaan emosi mengumpat, tidak digunakan untuk pembullyan atau perundungan secara verbal dan tidak merugikan orang lain. Namun konteksnya juga dapat dikatakan salah jika anak kecil yang menggunakan kata Anjay terlebih lagi anak kecil tersebut tidak mengerti konteks penggunaan kata Anjay yang benar. Dikhawatirkan, apabila kata tersebut didengar, diserap, dan dilontarkan anak kepada orang tua bisa menimbulkan masalah. Begitu pula ketika digunakan di lingkungan yang sebagian besar diisi oleh orang-orang yang lebih tua, penggunaan kata Anjay pasti dinilai kurang sopan.

Pentingnya peran orang tua dan orang dewasa di sekitar anak untuk menjaga setiap tutur kata yang hendak dilontarkan. Edukasi yang paling dominan harus lahir dari lingkungan keluarga dan dibantu oleh lingkungan sekolah kemudian lingkungan sekitar. Jika keluarga memperhatikan anak dengan baik, memberitahu hal yang baik dan tidak baik, menegur anak yang salah dengan cara yang baik dan tidak melontarkan kata-kata yang kasar, anak akan mengikuti cara berkomunikasi orang tua. Penting sekali bagi orang tua untuk selalu membimbing, mengawasi dan mengarahkan anaknya. Jika penggunaan bahasa di dalam lingkungan sudah berjalan dengan baik, lingkungan sekolah juga ikut serta menyempurnakan hal tersebut. Pendidikan karakter sejak dini yang ada pada sekolah harus berjalan dengan baik, sehingga edukasi yang diberikan oleh orang tua dapat terealisasikan dengan maksimal.

Selain itu, teman sebaya dan anak dewasa juga mempengaruhi ucapan dari anak. Jika anak bergaul atau berteman dengan seseorang yang memiliki tuturan sopan dan santun maka anak akan cenderung mengikuti tuturan baik tersebut. Namun, jika anak terbiasa bergaul dengan teman sebaya atau orang dewasa yang sering mengumpat, anak akan mengikuti kebiasan buruk tersebut.

Jadi antara lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan sekitar harus bekerja sama dengan baik. Keseimbangan antara ketiganya harus berjalan dengan baik. Jika hal tersebut terealisasikan dengan sempurna maka generasi penerus bangsa juga merupakan anak yang pandai secara intelektual dan pandai berkomukasi dengan baik. Saat ini, penting bagi kita semua menyelamatkan generasi penerus bangsa. Pemberian edukasi karaker anak sejak dini harus didukung. Jika dari tiga komponen di atas tidak berjalan sempurna atau salah satu dari komponen hilang, bisa dikatakan generasi penerus bangsa juga akan semakin menipis karena hanya sedikit anak yang dapat diselamatkan.