Minat Petani di Lumajang Beralih ke Pupuk Organik Dinilai Kurang

Minat Petani di Lumajang Beralih ke Pupuk Organik DInilai Kurang
Salahsatu dampak menggunakan pupuk kimia berlebihan
Lumajang, Motim - Minat petani di Lumajang untuk beralih ke pupuk organik dirasakan sangat kurang. Kushaeri, SP., warga Dusun Kramat, Desa Ranuwurung, Kecamaatan Randuagung, pun merasa prihatin dengan kondisi ini. Sebab, selama ini petani lebih banyak mengandalkan pupuk kimia.

Ia juga prihatin dengan kondisi tanah pertanian yang ada di Kabupaten Lumajang. Menurutnya, kandungan kimia dalam tanah sudah mengalami kejenuhan. Dan hal ini bisa mengakibatkan tidak seimbangnya unsur dalam tanah. “Meskipun pupuk subsidi tidak dikurangi, petani mestinya beralih sendiri,” katanya.

Jika terus dipaksakan menggunakan pupuk kimia, akan terjadi kelebihan salah satu unsur dalam tanah. Sehingga tanaman tidak bisa menyerap nutrisi dengan bagus. “Kalau tanahnya tidak sehat, tanamannya pasti tidak akan sehat,” jelasnya.

Ia meyakini jika bertani itu bukanlah merawat tanaman, melainkan merawat tanah. Fakta di lapangan, C organik dalam tanah, kandungannya sudah menurun. Hal itulah yang menyebabkan tanah menjadi tidak sehat.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, petani bisa memanfaatkan pupuk kompos atau pun pupuk bokasi siap pakai yang harganya sangat murah. “Pupuk organik ini sangat murah, bahkan gratis. Kita bisa menggunakan kotoran atau urin dari ternak,” jelasnya lagi.

Kushaeri berpesan, jika dirinya bersedia mendapingi masyarakat apabila ada yang ingin membuat pupuk organik sendiri. “Kami siap membantu teman-teman petani yang ingin beralih ke organik,” pungkasnya.(cw7)