Pupuk Organik Buatan Warga Randuagung Diminati Petani Luar Pulau

Pupuk Organik Buatan Warga Randuagung Diminati Petani Luar Pulau
Kegiatan usaha pupuk organik milik Kushaeri
Lumajang, Motim - Sepuluh tahun produksi pupuk organik, Kushaeri, warga Dusun Kramat, Desa Ranuwurung, Kecamatan Randuagung mengaku banyak pesanan dari luar pulau, seperti dari Kalimantan dan Sulawesi. Ironisnya, permintaan di Kabupaten Lumajang tidak ada sama sekali.

“Belum pernah ada pesanan klo di sini, lebih banyak kirim ke luar pulau,” ucapnya. Selama ini dirinya kerap mengirim pupuk organik jenis kompos dan bokasi dalam jumlah besar.

Menurutnya, masyarakat yang ada di daerah Kalimantan dan Sulawesi sangat sadar akan kondisi tanah di daerahnya. Sebab, tanah di luar pulau Jawa lebih banyak mengandung humus. Sehingga, kebutuhan akan pupuk organik juga tinggi.

“Kalau masyarakat Jawa ini banyak yang terlena. Mengapa? Karena tanahnya bagus, subur sehingga petani lebih bergantung pada pupuk kimia,” jelasnya.

Kesadaran masyarakat terhadap kondisi tanah di pulau Jawa sangat minim. Sedangkan dampak dari penggunaan pupuk kimia semakin hari semakin terasa. Keseimbangan unsur dalam tanah akan terganggu, sehingga penyerapan nutrisi dalam tanah oleh tanaman tidak bagus.

“Tanahnya saja tidak sehat, bagaimana tanaman mau sehat?,” katanya.

Untuk mengembalikan keseimbangan tanah, kata Kushaeri bisa menggunakan pupuk organik yang tersedia banyak di lingkungan sekitar. “Pupuk organik itu banyak sekali, bisa pakai rumput, daun, urin ternak dan kohe,” tambahnya.

Selama ini ia memanfaatkan kotoran hewan yang sudah berusia sekitar 1 tahun untuk diolah menjadi pupuk organik. Usaha pupuk organik ini sangat berpotensi besar, sebab tidak mudah untuk ditiru. “Pupuk organik ini kuncinya ada pada probiotiknya. Prosesnya mudah, tapi harus jeli,” akunya.

Pupuk organik yang mudah diterima oleh masyarakat dari strain bokasi yang sudah melalui proses fermentasi. Harga per sak nya Rp. 20 ribu untuk kohe sapi, beratnya sekitar 40 kilogram. Sedangkan kohe kambing per sak nya Rp. 30 ribu isi 25 sampai 30 kilogram.

Dirinya juga bersedia jika dimintai bantuan untuk mengedukasi masyarakat dalam pembuatan pupuk organik. “Silahkan bisa datang ke rumah kalau mau belajar, atau lihat-lihat dulu,” pesannya.(cw7)