Perolehan Pajak Restoran di Lumajang Menurun Hampir 50 Persen

Salahsatu restoran di Lumajang. (*)
Lumajang, Motim - Perolehan pajak dari restoran di Lumajang mengalami penurunan di 2020. Dari data Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) Lumajang, ada penurunan hingga 50 persen dibandingkan 2019.

Sepanjang 2020, dari 20 restoran di Lumajang yang dikenakan wajib pajak, diperoleh pajak hingga Rp 465 juta. Sementara penyetor pajak terbesar adalah GM Resto sebesar Rp 148 juta.

Tahun sebelumnya, dengan jumlah restoran yang sama, dalam setahun BPRD memperoleh pajak hingga Rp 882 juta. Penyetor pajak terbesar juga GM Resto sebesar Rp 232 juta.

Sekretaris BPRD Lumajang, Iskandar menyampaikan, dari evaluasi yang dilakukan pihaknya, penyebab utama menurunya perolehan pajak restoran karena adanya pandemi Covid-19. Jumlah pengunjung restoran berkurang dibandingkan sebelum pandemi.

Namun kata Iskandar, sebenarnya omzet restoran tidak terlalu menurun ketika pandemi. Pasalnya, meskipun jumlah pengunjung berkurang, namun penjualan makanan dan minuman secara online oleh restoran terbilang masih tinggi.

“Ternyata mereka bergerak di online, sehingga kita tidak bisa mendeteksi. Online tidak ada notanya, notanya ada di ojol (ojek online) saja,” ujarnya.

Iskandar menegaskan, selama ini kalau transaksi restoran secara konvensional bisa terpantau. Setiap saat, restoran yang dikenakan wajib pajak, transaksinya bisa dipantau oleh petugas BPRD. “Setiap transaksi ada pajak 10 persen,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, memang ada sejumlah restoran yang tingkat kepatuhannya untuk bayar pajak masih rendah. “Kembali lagi pada aspek kepatutan dan kepatuhan. Mereka patut bayar pajak, tapi tidak patuh,” ujarnya.

Sejauh ini memang tidak ada sanksi bagi pengusaha restoran yang tidak patuh. Pihak BPRD hanya mengingatkan dan memberikan sosialisasi. “Untuk punishment tidak ada, tapi kita terus melakukan sosialisasi,” tegasnya. (fit)