Kedelai Mahal, Pengusaha Tahu Terpaksa Naikan Harga Jual

Kedelai Mahal, Pengusaha Tahu Terpaksa Naikan Harga Jual
Salahsatu usaha tahu di Lumajang.(fit)
Lumajang, Motim - Di tengah pandemi Covid-19, harga kedelai justru mengalami lonjakan signifikan. Akibatnya, pengusaha tahu di Lumajang pun terpaksa menaikan harga jual. Agar tidak mengalami kerugian.

Bahril Wahdah, salahsatu pengusaha tahu menyampaikan, kenaikan ini mulai terjadi beberapa bulan lalu di tengah pandemi. Dulu, normalnya harga kedelai Rp 7 ribu perkilogram. Sekarang harganya di kisaran Rp 9.700 perkilogram.

"Efek ada saat pandemi, terutama terkait bahan baku. Kedelai harganya naik signifikan. Saat ini Rp 9.700 perkilogram, itu pun tidak stabil. Bisa naik lagi. Dulu normalnya Rp 7 ribu perkilogram," ungkapnya pada Memo Timur, Selasa (2/3/2021).

Menurutnya, kenaikan harga kedelai ini akibat terbatasnya stok kedelai impor. Sehingga harus beralih juga ke kedelai lokal yang harganya ikut tinggi.

"Memang selama ini kita pakai kedelai impor. Ketika kedelai impor tidak ada, efeknya ke harga kedelai lokal," ujar pengusaha tahu di Desa Karangsari, Kecamatan Sukodono tersebut.

Dengan adanya kenaikan harga bahan baku, pihaknya pun harus menaikan harga tahu ke para pedagang. Sebelumnya, harga tahu normalnya Rp 22 ribu per bak. Saat ini harganya naik menjadi Rp 25 ribu per bak.

Sementara harga tahu di tingkat konsumen tetap Rp 500 per biji. Namun ukuran potongan yang mengalami perubahan. Menyesuaikan permintaan dari pedagang.

Namun kata Bahril Wahda, sejauh ini untuk permintaan tahu masih stabil meskipun pandemi. Bahkan untuk jumlah produksi juga tidak mengalami pengurangan.

"Untuk jumlah produksi masih tetap, tidak ada penurunan. Karena permintaan juga masih normal," ujarnya.

Sementara, pihak Dinas Perdagangan (Dindag) Lumajang ketika dikonfirmasi menyampaikan, dari pantauan di sejumlah pasar, saat ini harga kedelai impor di tingkat konsumen justru Rp 11 ribu perkilogram. Sedangkan kedelai lokal Rp 10 ribu perkilogram. Dindag menyebut, harga tersebut masih terbilang normal.

"Masih normal, karena sebelumnya harganya masih di atas itu. Sempat Rp 12 ribu perkilogram," ujar Sekretaris Dindag Lumajang, Aziz Fahrurrozi.

Lanjutnya, kenaikan harga kedelai impor tersebut diantaranya dipicu biaya transportasi. "Kalau stoknya ada, mungkin karena ada penambahan biaya transportasi jadi naik," pungkasnya. (fit)